In Sharing

Suka Jengah Dengar Omongan Pedas Orang Lain? Berikut, 4 Sugesti Diri yang Patut Kamu Coba, Dears!

Foto : Pexels.com
Hi, Dears!

Tulisan saya kali ini terdengar seperti curhatan hati, ya? Hehe..
Ah, entahlah. Saya yakin, setiap orang pasti pernah merasa jengah dengan salah satu omongan orang lain yang dilontarkan ke kita. Setiap orang pasti pernah merasa terusik dengan komentar orang lain, terlepas dari apa komentar itu memang benar, atau bahkan hanya hoax belaka.

Karakter setiap orang berbeda. Begitu pula cara orang menanggapi komentar negatif tentu akan berbeda pula. Ada yang ketika mendengarnya hanya diam dan tersenyum, ada pula yang hanya dianggap angin lewat atau anjing menggonggong, namun tidak sedikit pula yang menanggapinya pakai kebawa perasaan hingga menangis, tak enak makan, tidak semangat kerja bahkan tidak bisa tidur. Tidak perlu disalahkan, sekali lagi, setiap jiwa punya cara yang berbeda untuk menanggapi dan mengatasinya.
 

Nah, bagi kamu yang biasanya masuk pada golongan terakhir, yaitu golongan orang-orang yang suka kepikiran, berikut 4 sugesti diri yang patut kamu coba, Dears :

1. Hidup itu Allah yang Menentukan, Kamu yang Menjalani, Orang Lain yang Mengomentari

Sepertinya sederetan kalimat di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Namun, sugesti ini memang sangat kita perlukan. Ya, benar. Bahwa Allah itu yang menentukan jalan hidup kita, kita tinggal menjalaninya dan mengikuti alur sesuai rencana Allah. Dan tak kalah menarik lagi, akan ada sukarelawan yang bersedia menjadi komentator hidup orang lain. Itu sudah wajar. Di mana pun pasti ada orang yang model begini. Sudahlah, biarkan saja. Tak ada habisnya menuruti omongan orang lain. Yang terpenting, kita tetap berusaha di jalan yang lurus. Toh, kita makan tidak minta ke mereka. Iya, gak?

2. Laa Tahzan, Innallaha Ma'anaa, Gusti Allah Mboten Sare

Jangan Bersedih. Sesungguhnya Allah Selalu Bersama Kita. Allah itu Tidak Tidur. Semua gerak-gerik, ucapan dan perbuatan kita tak pernah lepas dari pengawasan Allah. Begitu pula mereka yang hobi berkomentar. Sudahlah, biarlah orang lain dzolim ke kita. Biarlah mereka berbicara sesuka hati mereka. Bukankah Allah tidak pernah tidur? Bukankah ada Allah yang akan membalaskan perbuatan mereka?

3. Memang Sulit untuk Merubah Orang lain, Maka Hati Kita yang Harus Kita Tata

Kadang kita memang tidak ikhlas, kita tidak rela dengan apa yang telah orang lain perbuat pada kita. Kadang kita berpikir, 'kenapa mereka bisa seperti itu'. 'Kenapa jalan pikiran mereka seperti itu'. 'Kenapa mereka tidak seperti kita'. Itulah manusia. Setiap orang, setiap manusia, setiap jiwa, akan memiliki pola pikir yang berbeda. Tentu, yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain. 
Daripada larut-larut dengan pikiran-pikiran semacam itu, alangkah lebih baiknya kita tata pikiran kita, kita tata hati kita. Akan sulit merubah orang lain sesuai dengan kemauan kita, namun akan lebih mudah untuk menata hati kita sendiri. Berdamailah dengan keadaan. Berdamailah dengan masalah itu. Sudahlah, ada Allah yang selalu bersama kita.


4. Serahkan, Pasrahkan Semuanya pada Allah

Saat ketiga sugesti di atas sudah dicoba namun hati kita belum bisa mengikhlaskan dengan sepenuhnya, maka serahkan, pasrahkan semuanya pada Allah, Dzat Yang Maha Pembalas. Biarlah Allah membalas mereka yang dzolim ke kita sesuai dengan rencananya Allah. Biarlah Allah mengadili mereka sesuai kehendak-Nya. Gunakan kesempatan untuk istrospeksi diri, mencari letak kesalahan kita agar bisa memperbaiki diri. Gunakan kesempatan untuk berdo'a, mendekat pada Allah. Bukankah do'a orang yang terdzolimi itu akan diijabah Allah?

Sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat. Semoga bisa menghibur dan meringankan beban teman-teman yang lagi merasa terdzolimi.
========

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Food Sharing

Kamu Penggila Petai tapi Gak Mau Bau? Intip Tipsnya Biar Gak Bau Mulut, yuk, Dears!

Foto : Merdeka.com
Hi, Dears!
Duh, lagi musim petai alias pete, nih! Surga dunia banget, kan, buat kamu-kamu yang doyan petai. Di mana-mana ada yang namanya petai. Petai memang termasuk salah satu jenis makanan yang sudah tidak asing lagi bagi para pecinta kuliner, termasuk saya. Hehe
Petai paling enak disajikan dengan lalapan, sambal atau dicampur dengan oseng/tumis. Dijamin bakal habis, tuh, nasi sebakul.
Namun, bagi sebagian orang, petai termasuk dalam daftar makanan yang wajib dihindari karena baunya yang memang kurang sedap. Dari baunya saja, itu sudah menghilangkan selera makan mereka, apalagi mencicipinya. Seperti suami saya, nih, saat ada makanan yang tercampur petai, dia lebih memilih untuk rela kelaparan dan tidak mau makan sedikitpun, daripada harus makan masakan yang tercampur dengan petai. Tentu hal ini berpengaruh dengan saya, Dears. Saya, selaku penggila petai, sejak menikah harus rela nahan tidak makan petai karena suami yang tidak suka petai.
Pernah suatu ketika, saya nekad mencicipi satu mata saja, dan alhasil, suami langsung tahu kalau saya habis makan petai. Well, dia tidak mau sama sekali saya dekati. Nelangsa juga, kan, kalau sudah begitu?
Saya boleh makan petai, asal jangan sampai ada bau petai sedikit pun. Haha.. Memang bisa? Ya sudah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak makan petai, demi keridloan suami saya. Hehe.. Lebay banget, ya
Sampai pada akhirnya, ada salah satu teman yang bilang, bahwa buat kita-kita yang doyan makan petai tapi tidak mau bau mulut, ada jurus jitunya, dan ketika saya coba, beneran berhasil, Dears. Hihi.. Duh, seneng banget rasanya karena bisa bernostalgia dengan salah satu makanan favorit saya. Nah, buat sahabat blogger yang doyan petai juga, berikut tiga jurus jitu yang bisa kalian coba ketika selesai makan petai:

1. Segera Minum Kopi Murni

Dears, minum kopi dipercaya sangat ampuh untuk menghilangkan bau petai di mulut kita, terutama kopi yang murni, ya. Ketika tubuh kita terutama mulut kita menelan kopi, aroma dan rasa petai yang kurang sedap akan kalah dengan aroma dan rasa kopi yang telah kita telan. Saya telah membuktikan cara ini beberapa kali dan berhasil, Dears. :)

2. Makan Kulit Petai

Nah, kalau untuk yang ini agak butuh keberanian, Dears. Mengingat kulit dari petai itu sendiri rasanya sepet dan gak enak banget. Kata ibu saya, konon, kulit petai ini juga ampuh untuk menghilangkan bau mulut sebab makan petai tadi. Caranya, kulit tersebut cukup dicuci dan dijadikan lalapan saat kita akan selesai makan.

3. Langsung Gosok Gigi/Semprot dengan Obat Penyegar Mulut

Kalau untuk yang satu ini sebenarnya sudah wajib banget dilakukan bagi para penggila petai setiap selesai makan petai. Jangan sampai setelah lahap makan petai, tanpa sikat gigi kita langsung nimbrung emak-emak PKK, ya, Dears. Bisa pingsan orang sekampung. Hehe..

Semoga bermanfaat, Petai Lover's!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

"Surat Cinta untuk Abi"

Foto : Pexels.com
"Selamat Ulang Tahun Pernikahan kita yang ke-5, Abi. Semoga keluarga kita selalu sakinah, mawaddah warohmah, selalu dalam lindungan dan maghfirah Allah. Terima kasih atas setiap cerita indah yang kita ukir bersama. Maafkan istrimu yang masih jauh dari kata sempurna".

21 Oktober 2013
Senin pagi. Waktu itu kau ucap lafadz Ijab Qobul di depan bapak dan banyak saksi lainnya. Engkau yang biasanya begitu pendiam, namun, pagi itu dengan lantang dan lancar kau ucapkan janji suci itu.
"Qobiltu nikaahaha watazwiijaha bimahril madzkur". 
Subhanaalah, aku begitu haru, bahagia dan bersyukur mendengarnya. Aku sadar diri, aku ini siapa, aku bukanlah siapa-siapa. Namun, kau telah memilihku untuk mendampingi hidupmu sampai akhir hayatmu. Tak hanya itu, mahar yang kau berikan sungguh di luar dugaanku. Orang seperti aku, saat itu kau beri mahar 10x lipat dari mahar rata-rata di kampungku.

"Sebaik-baik wanita adalah yang meminta mahar sedikit, dan sebaik-baik laki-laki adalah yang memberi mahar banyak". 
Ya, memang. Bahkan, saat itu saya sempat ditegur bapak karena dikira saya yang meminta mahar begitu banyak. Namun, sekali lagi saya tegaskan, saya tidak pernah menyebutkan syarat mahar, apalagi meminta sampai sebanyak itu. Semua itu murni keinginanmu. Padahal saya sangat tahu, saat itu, kondisi pekerjaanmu pun jauh dari kata mapan. Tekadmu untuk memuliakan calon istrimu, sungguh membuat hatiku semakin luluh akan cintamu.

Abi, kau memang tak banyak bicara. Kau memang tak seperti kebanyakan lelaki pada umumnya. Tak pernah ku dengar rayuan gombalmu. Ya, lagi-lagi, kau memang begitu. Bahkan, sampai sekarang pun, aku tak ingat kapan terakhir kali kau merayuku. Bagimu, cinta dan kasih tak harus diucapkan, namun cukup kau buktikan dengan perlakuan manismu padaku.

Abi!
Bukankah tak pernah sekalipun kau memintaku menjadi kekasihmu?
Bukankah kau juga tak pernah memintaku menjadi istrimu?

Ya, semuanya memang mengalir begitu saja. Aku pun tak tau kapan semua ini bermula. Berawal dari sebuah hubungan persahabatan satu angkatan, satu sekolah, satu jurusan dan satu lingkup pesantren. Aku pun mengenalmu jauh setelah kita lulus sekolah. Saat di sekolah dulu, tak pernah sekalipun kita bertegur sapa. Bahkan hanya untuk bertukar senyum saja kita tak pernah. Namun, itulah rahasia jodoh. Siapa sangka, kini engkau telah menjadi imamku, ayah dari anakku dan teman seumur hidupku?

Abi!
Aku tahu kau memang bukan lelaki yang romantis. Aku tahu kau memang tak pandai menyusun kata untuk merayu puluhan wanita. Karena itulah, aku bisa tertarik padamu. Karena itulah, aku yakin, bahwa kamu laki-laki baik yang tak asal menebar cinta kepada sembarang wanita. Karena kamulah, lelaki yang kucari. 


Abi.. Kini usia pernikahan kita sudah genap 5 tahun. Kita telah dikaruniai satu anak gadis sholihah yang cantik, sehat dan pintar. Insyaallah. Semoga, selalu sakinah bersamamu, Abi.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Tempat Kerja Kamu Kurang Nyaman? Temukan Alasan Tepat yang Membuatmu Harus Bertahan!

Foto : Pexels.com
Hi, Momies!
Duh, senang sekali kan kalau kita ingin kerja di luar rumah dan diizinkan sama suami? Iya, rasanya seperti ingin menari-nari di atas awan. Hehe.. Lebay banget. Namun, yang namanya kenyataan itu tak selamanya sesuai dengan angan-angan dan harapan. Keinginan kerja di luar rumah sudah terpenuhi, akan tetapi yang menjadi masalah, ternyata suasana kerjanya kurang nyaman. Entah dari atasan kita yang begitu kaku dan arogan, atau mungkin perlakuan dari salah satu teman kita yang kurang menyenangkan, bisa jadi dari tugas kita yang dirasa begitu memberatkan. Dan mungkin masih ada banyak lagi serba-serbi pekerjaan yang membuat kita rasanya ingin berhenti dari pekerjaan tersebut. Ada yang pernah mengalami seperti ini, kah, Moms?

Dears!
Berikut akan saya bahas beberapa point penting yang bisa kita jadikan sugesti pada diri kita sendiri supaya kita tetap bisa bertahan di pekerjaan tersebut. Simak, yuk!

Tidak Semua Orang Mudah Mendapatkan Pekerjaan

Dears! 
Saat kita merasakan suatu kejenuhan dan membuat kita sangat ingin sekali resign dari tempat kerja kita, ingatlah, di luar sana, banyak sekali orang yang memandang iri terhadap kita. Bisa jadi, apa yang terjadi pada kita saat ini,merupakan impian bagi orang lain. Mereka dengan bersusah payah berusaha mencari pekerjaan, namun hanya penolakan dan harapan kosong yang mereka dapatkan. Ada keluarganya di rumah yang begitu mengharapkan kabar gembira, bahwa ayahnya telah diterima di suatu tempat, pulang dengan membawa satu bungkus nasi dan beberapa uang, namun, tidak sedikit dari mereka yang hanya pulang dengan tangan kosong dan kabar mengecewakan.

Begitulah, di luar sana banyak yang menganggap bahwa pekerjaan itu lebih penting dari apapun. Sementara kita, yang sudah dengan mudahnya mendapat pekerjaan yang layak, hanya karena perilaku salah satu oknum yang menurut kita kurang menyenangkan, sudah membuat kita akan menyerah dan berhenti.  Tidak akan menyesalkah, kita, nanti?

Saat Kita Resign Karena Menghindari Suatu Problem, di Tempat Baru pun Kita akan Menemukan Problem-problem yang Berbeda  

Sudahlah, tidak ada suatu pekerjaan yang berjalan mulus tanpa hambatan. Di manapun dan apapun pekerjaan itu. Kalau kata orang,"urip iku sawang-sinawang" adalah benar. Jika kamu beranggapan, setelah berada di tempat kerja yang baru kamu akan menemukan kenyamanan tanpa ada masalah sedikit pun, itu salah. Tempat kerja baru, teman baru, atasan baru, lingkungan baru, tentu kamu butuh penyesuaian juga, dan itu tidaklah mudah.

Untuk itu, buat sahabat-sahabat tercinta yang lagi merasakan kebimbangan, antara resign atau lanjut, pikirkanlah sekali lagi. Coba ditimbang antara maslahat dan mudharatnya. Jika memang, meneruskan dirasa lebih banyak mudharatnya, tentulah resign adalah jalan yang terbaik. Di manapun dan apapun pekerjaan kita saat ini, semoga menjadi pekerjaan yg baik, serta bisa menjadi rizki yang barokah dan melimpah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

5 Jenis Ujian Saat Kamu Berumah Tangga. Intip Yuk, Dears?

Foto : Pexels.com
Assalaamu'alaikum, Ukhti Fillah..
Saat kita memutuskan untuk menerima pinangan seseorang, itu berarti kita harus siap meninggalkan masa lajang kita dan mempersiapkan diri memasuki kehidupan yang baru, yaitu menikah. Di mana menikah itu bukan hanya sebatas menyatukan dua orang saja, namun lebih luas dari itu. Menikah bisa diartikan menyatukan dua keluarga besar, yaitu keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai perempuan. Dengan menikah, kita akan mendapatkan pasangan hidup yaitu suami. Tidak hanya itu, kita akan mendapatkan orang tua baru, kita akan mendapatkan saudara-saudara baru, bahkan kita akan mendapatkan tetangga yang baru juga. Karena lingkungan kita semakin meluas, tentu peluang masalah yang akan timbul pun semakin kompleks, bukan? Hehe 
Itulah mengapa, saat menjelang pernikahan, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang datang.
"Udah siap nikah, nih?".
"Udah siap mengarungi bahtera pernikahan?".
"Hati-hati, orang menikah itu banyak ujiannya, lho".
Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan serupa. Bikin paranoid banget kan, Dears. 

Dears..
Orang yang hidup di dunia, tentunya tak bisa lepas dari cobaan dan ujian. Kita semua sudah mengetahui, bahwa Allah memberikan cobaan/ujian ke kita itu untuk mengukur seberapa tinggi nilai taqwa kita kepada Allah, Sang Maha Pemberi Kehidupan. Begitu juga orang yang berumah tangga, tak ada rumah tangga yang berjalan lurus mulus tanpa adanya cobaan dan ujian dari Allah. Tinggal kitanya saja, bagaimana cara kita menyikapi ujian-ujian tersebut. Apakah kita akan menyikapinya dengan mengeluh dan memberontak pada Allah? Ataukah kita akan melaluinya dengan ikhlas, sabar dan husnudzon akan takdir-Nya?

Nah, 5 jenis ujian saat kita berumah tangga itu apa saja sih, Dears? Kita simak, yuk!

1. Mertua yang kurang menyenangkan

Sudah bukan hal yang asing lagi, ya, Dears, tentang polemik antara menantu dan mertua. Sering sekali kita mendengar curhatan, entah itu dari teman, entah itu dari saudara, bahwa ada ketidakcocokan mereka dengan mertuanya. Yang katanya mertuanya beginilah, yang begitulah. Aah, entahlah. Hehe
Namun, bagaimanapun mertua kita, seburuk apapun perlakuan beliau ke kita, beliau tetaplah ibu dari suami kita, beliau tetaplah orang tua kita juga, yang wajib hukumnya untuk kita hormati, wajib hukumnya untuk kita perlakukan sebaik mungkin.
Sudahlah, anggap itu sebagian dari kekurangan orang tua kita. Anggap itu sebagai PR kita, bahan introspeksi diri kita, bagaimana caranya agar kita bisa lebih baik lagi.

2. Saudara ipar, tetangga yang kurang menyenangkan

Nah, kalau yang ini bagaimana, Dears? Hits juga, kan? Hehe
Di mana-mana pasti nemu nih yang model beginian.
Ibaratnya, "Hidup itu Allah yang nentuin, kita yang ngejalanin, orang lain yang ngomentarin". Siapa nih yang setuju dengan pepatah ini?
Iya, Dears. Kita makan  gak minta mereka, tidur gak numpang ke mereka, namun mereka dengan rela hati ngepoin hidup kita dari A sampai Z. Iya gak, sih?
Lagi-lagi, sudahlah, toh mereka nanti akan jenuh pada waktunya. Hehe

3. Ekonomi yang pas-pasan, bahkan cenderung kurang

Dears, kalau berbicara yang ini bikin pipi panas mau mewek, ya?. Benar, banyak sekali rumah tangga di luar sana yang anak-anaknya pintar, niat banget mau sekolah, namun yang jadi masalah, biaya buat sekolah mereka lah yang musti gali lobang tutup lobang. Buat makan saja susah, apalagi buat sekolah yang kebutuhannya semakin hari semakin melejit. Namun, ini semua tak lepas dari rencana indah-Nya Allah.

4. Anak/keluarga yang sakit-sakitan/nggoda banget

Tidak sedikit pula di luar sana yg sekilas rumah tangganya hampir sempurna. Semuanya serba kecukupan. Namun, di satu sisi, ada ternyata anaknya diberi ujian sakit yang tak kunjung sembuh. Ada juga yg anaknya sehat, namun masya Allah, kurang nurut sama orang tua. Harta tersedia, namun tidak mau sekolah. Inilah contoh anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya.

5. Pasangan yang kurang setia

Point nomor 5 ini rupanya lagi hits juga di tahun 2018, ya, Dears. Hehe.. Musimnya orang berselingkuh. Ini juga merupakan salah satu bentuk ujian rumah tangga seseorang. Orang bilang, "Rumput tetangga itu lebih hijau". Benarkah seperti itu? Oh, tidak. Itu hanyalah salah satu bentuk tipu daya syetan. Orang yang kuat imannya, tentu tidak akan tergoda dengan kilauan di luar sana. 

Foto : Pexels.com

Dears..
Apapun itu yang menjadi ujian kita, bersabarlah. Kembalikan semuanya pada Allah, sang Pencipta. Tetap husnudzon sama Allah, berprasangka baik pada Allah. Yakinlah, Allah pasti memiliki rencana yang indah di balik ini semua. Tetap berpegang teguh di jalan Allah, sambil terus berdoa semoga ujian-ujian ini segera berlalu. Jangan sampai ujian ini membuat kita semakin jauh dari Allah. Namun sebaliknya, semoga ujian-ujian ini menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Karena itulah hakikatnya Allah memberikan ujian pada hamba-Nya. Agar kita selalu ingat dan memohon kepada Allah. Semoga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah warohmah. Diberikan keturunan yang sholih dan sholihah.

Buat Ukhti yang saat ini lagi diuji, keep fighting, Dears. Dunia tidak akan berhenti kendati ujianmu terasa berat. Dunia masih terus berputar. Ikuti saja air yang mengalir. Lanjutkan kehidupanmu. "Masalah tidak untuk dihindari, namun, bertemanlah dengan masalah tersebut, maka bebanmu akan terasa ringan".Semoga bermanfaat, ya, Dears.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Parenting

3 "Hukuman" Buat si Kecil, Terlihat Sepele namun Kece Badai!

Foto: Pexels.com
Assalamu'alaikum, Sahabat Fillah! Bunda-bunda kece!
Siapa sih yang tidak suka memiliki anak yang patuh sama kita? Nurut sama kita? Tentu semua orang tua akan memilih dan mendambakan memiliki anak yang patuh juga nurut. Saat disuruh belajar, langsung bergegas. Saat disuruh beli ini itu, tak ada penolakan. Saat sudah waktunya shalat, ngaji, tidak usah disuruh. Sungguh impian semua orang tua bukan?
Namun, kita semua tahu, menjadi orang tua itu tidaklah mudah. Tidak semudah beli cilok di pinggir jalan, ya, Bun. Hehe

Tak selamanya pikiran mereka sejalan dengan kita. Tak selamanya mereka menuruti kemauan kita. Ada kalanya mereka mengacuhkan, ada kalanya mereka memberontak. Untuk itu, perlu dibentuk dan diberlakukan beberapa "aturan" untuk membatasi sikap dan perilaku mereka. Dan alangkah lebih baiknya, aturan-aturan itu kita buat bersama dengan mereka, sehingga terbentuk sebuah kesepakatan. Aturan-aturan itu seperti :
- Merapikan mainan setelah selesai bermain
- Harus berbagi mainan
- Cuci tangan sebelum makan dll

Yang namanya aturan, ada kalanya akan dilanggar. Misalnya, mereka sudah tahu kalau harus berbagi mainan dengan teman mainnya, namun, anak kecil tetaplah anak kecil, mereka masih saja berebut mainan hingga berujung pertengkaran dan menangis. Selain menasihati mereka bahwa itu perbuatan yang tidak bagus, ada beberapa cara "hukuman" untuk mereka dengan tujuan mereka tidak akan mengulanginya lagi. Cara tersebut antara lain :

Berdiri Menghadap Tembok

Wah, cara ini terbukti ampuh banget, Bunda. "Kok bisa, padahal kan cuma berdiri menghadap tembok?". `Iya, Bunda. Berdiri menghadap tembok, memang terlihat sepele. Namun, jika kita pikir-pikir, kita akan menemukan apa di tembok? Adakah sesuatu yang menarik di tembok? Bisakah kita melihat-lihat di tembok? Nah, hal ini akan menimbulkan kejenuhan buat si kecil. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, sehingga hal ini akan menjadi momok tersendiri bagi mereka. Perlu Bunda ingat, ketika menerapkan cara ini, tidak perlu lama-lama ya, cukup 5-10 menit saja.

Tidak Boleh Main

Bunda, dunia anak itu dunia bermain. Semua anak pasti suka saat bermain, apapun mainan itu. Waktu bermain merupakan waktu yang sangat mereka tunggu-tunggu, apalagi ketika anak sedang berada di sekolah. Hukuman tidak boleh bermain, juga sangat berpengaruh banget buat anak-anak, sehingga kemungkinan kecil mereka akan melanggar aturan-aturan yang telah kita buat.

Sita Apa yang Menjadi Kesukaan Mereka

Kali ini butuh perjuangan untuk bisa konsisten, ya, Bunda, alias Bunda harus "tega" dan tidak terpengaruh oleh rengekan mereka untuk sementara. Hehe
Saat anak kita melanggar aturan yang telah kita buat bersama, misalnya, bermainnya kurang bagus dan terlalu berbahaya, kita bisa menyita apa yang menjadi kesukaannya. Entah itu, tidak dibelikan susu, tidak boleh menonton tv, tidak diajak jalan-jalan dan lain-lain.

Itu, ya, Bunda, beberapa cara/hukuman yang bisa kita terapkan ke anak-anak kita. Hukuman yang sepele, tanpa menyakiti mereka, tanpa melukai mereka, namun berpengaruh sekali terhadap perilaku anak-anak sehingga menjadi lebih baik.
Kenapa sih harus ada hukuman? Iya, Bunda. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab anak-anak sejak usia dini. Apa jadinya kalau anak kita tidak memiliki rasa tanggung jawab? Mereka akan berbuat semaunya sendiri, tanpa rasa bersalah. Na'udzubillah, ya, Bunda.
Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholih, anak yang patuh, anak yang memiliki rasa tanggung jawab dan jiwa sosial yang tinggi. Aamiin.
Selamat mencoba, ya, Bunda. Salam sayang buat si kecil. :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Parenting Sharing

Anak Bunda Malas Mandi? Kepoin Yuk, 4 Cara Jitu Supaya si Kecil Menjadi Rajin Mandi!

Foto : Pexels.com


Hallo, Mak Blogger! Jumpa lagi, nih.
Sebenarnya, artikel kali ini muncul berdasarkan pengalaman pribadi sih. Hehe
Iya, benar. Anak saya termasuk pada golongan yang sulit banget diajak mandi. Main air suka sih, namun kalau sudah waktunya diajak mandi, MasyaAllah. Musti uber-uberan dulu kalau istilahnya orang Jawa, alias kejar-kejaran. Kalau gak gitu, emaknya ini musti punya sejuta jurus rayuan supaya dia manut dan gak berujung mewek.

Nah, ada beberapa jurus yang mau saya bagikan ke emak-emak di sini, di antaranya :

Buat Kamar Mandi Senyaman Mungkin

Nah, sedikit cubitan kecil nih, buat para Emak. Beneran sudah nyaman kamar mandinya, Mak? (Tamparan buat saya juga sih) Hehe
Kamar mandi yang nyaman tidak harus mewah, ya. Tidak hanya kamar mandi, semua tempat, apapun itu, kalau bersih, wangi, terang, tentu akan memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung. Apalagi kamar mandi. Konon, ada pepatah yang mengatakan, "Bersih tidaknya rumah seseorang itu tergantung dari kondisi kamar mandinya". 
Bener gak, sih, Mak?
Intipin kamar mandi dulu, yuk! Haha

Sediakan Air Hangat Saat Cuaca Dingin 

Jurus selanjutnya agak berat, ya, Mak? Hehe
Musti telaten ngangetin air, bagi para Emak yang di rumahnya belum ada penghangat  airnya.
Apalagi kalau pas pagi hari, wajib banget ini si kecil mandi pakai air hangat. Beda lagi untuk anak yang sudah tidak rewel, mau pakai air hangat, air dingin, sesuai selara lah ya.

Pilihkan Peralatan Mandi yang Menarik

Ini sepertinya juga hampir wajib, ya, Mak. Sunnah Muakkad, lah. Hehe
Sikat gigi yang lucu-lucu, pasta gigi yang rasa-rasa permen, sabun-samphoo yang wangi, tentu akan menjadi magnet tersendiri buat si kecil mau mandi. Mereka akan lebih bersemangat dan tertarik pastinya.

Berikan Reward pada Anak

Emak-emak zaman sekarang emang kudu kreatif, ya, Mak. Mengingat maunya anak jaman now pun semakin aneh-aneh dan beraneka.
Saya ada cara, nih. Coba siapkan beberapa snack/mainan, gak perlu yang mahal. Kemudian gantung di tembok/pintu kamar mandi. Setiap mau mandi, berikan sedikit pancingan.
"Ayo, Nak, mandi dulu! Tuh, lihat! Ada snack banyak di sana, nanti kalau Rara habis mandi, mama kasih hadiah satu deh".
Begitu dan seterusnya.

Semangat mencoba, ya, Mak. Semoga jurusnya berhasil.
Salam hangat dari saya buat si kecil.

Read More

Share Tweet Pin It +1

25 Comments

In Parenting

5 Cara Mudah Melatih Kemampuan Motorik Halus Anak, Nomor 5 Sangat Mudah, Dears!



Foto: Pexels.com
                                                    
"Anakku kok belum bisa nggunting, ya?"
"Anakku kok belum bisa pegang pensil dengan benar, ya?"
"Anakku kok belum bisa makan sendiri, ya?"
"Jangankan nulis, jangankan nggunting, nyobek kertas aja anakku masih kesulitan".
🔆💜💜💜🔆


Hi, Bunda!
Pernah gak sih Bunda kepikiran hal-hal seperti di atas?
Saya yakin, 7 dari 10 ibu pasti pernah khawatir tentang perkembangan si buah hati. Apalagi kalau perkembangannya tidak sama bahkan jauh di bawah teman-teman seusianya. Pasti galau banget kan Bunda?

Tenang Bunda, gak perlu risau, ya. Semua anak dilahirkan sama. Semua anak punya kelebihan masing-masing. Tinggal kita sebagai orang tua, bagaimana cara mendampingi dan merangsang tumbuh kembang anak-anak kita.

Sebelum kita berbicara terlalu jauh, mungkin bunda perlu searching dulu tentang Satuan Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak yang dikeluarkan oleh Permendikbud  No. 137 Tahun 2014. Di sana Bunda bisa melihat, target-target yang bisa kita jadikan acuan terhadap perkembangan ananda yang sesuai dengan umurnya. Jadi, kita tidak sampai salah target, ya, Bunda.
Misalnya nih, "Anak umur 2 tahun kok belum bisa menggunting, ya?". 
"Iyalah Bun, kan memang belum waktunya". Hehe

Setelah mempelajari STPPA Permendikbud No. 137 tahun 2014, Bunda bisa mengukur perkembangan ananda apakah dia termasuk anak yang terlambat berkembang, atau memang belum waktunya.

Nah, buat Bunda yang buah hatinya dirasa kemampuan motorik halusnya masih belum berkembang atau mulai berkembang, di bawah ini akan saya bahas beberapa cara atau usaha untuk melatih dan merangsang perkembangan motorik halus ananda agar bisa berkembang sesuai harapan, diantaranya :

Meremas Spons dengan Sabun dan Air

Meremas spons dengan sabun dan air dipercaya bisa membantu melatih motorik halus anak. Bunda cukup menyediakan spons, sabun pencuci piring (bisa juga dengan deterjen) dan air. Taruh air di baskom kecil, masukkan sabun secukupnya. Setelah itu masukkan spons, dan suruh ananda untuk meremas-remas spons tersebut hingga muncul banyak busa. 

Bermain Malam/Plastisin

Pasti sudah tidak asing lagi, ya, Bunda, apa itu plastisin. Anak-anak sering menyebutnya dengan malam. Ya, benda satu ini juga terbukti sangat membantu dalam merangsang perkembangan motorik halus ananda. Selain itu, plastisin termasuk benda yang sangat mudah ditemui di toko-toko mainan anak. Namun, Bunda bisa mencoba bikin plastisin sendiri lo di rumah. Bisa dengan menggunakan sabun batang dan tepung kanji. Untuk cara membuatnya bisa searching sendiri, ya, Bunda. Hehe

Bermain Pasir

Nah, untuk benda yang satu ini tentunya sangat mudah ditemukan, ya, Bunda. Pasir tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bangunan saja, lho, namun juga bisa kita gunakan sebagai media untuk merangsang perkembangan motorik halus si kecil. Anak kecil mana, sih, yang tidak suka saat disuruh main di pasir?

Merobek Kertas 

Buku catatan cicilan Bunda pernah dirobek si kecil?
Atau mungkin katalog barang jualan Bunda? Hehe
Sabar, ya, Bunda. Bahkan merobek kertas yang menurut kita itu sesuatu yang menjengkelkan pun, ternyata termasuk salah satu terapi untuk merangsang perkembangan motorik halus anak kita, lho, Bun.  

Meremas Kertas

Dari keempat cara di atas, ternyata cara kelima ini paling mudah dan tidak bermodal, ya, Bunda. Bunda cukup menyediakan beberapa lembar kertas re-use, bisa koran bekas juga untuk dijadikan bola-bola kecil. Semakin keras ananda meremas, akan semakin kecil bola yang ia buat, dan ini menunjukkan perkembangan motorik ananda semakin baik dan sesuai harapan.

Selamat mecoba bersama si kecil, ya, Bunda. Semoga cara-cara di atas menjadi kegiatan bermain ananda yang bermanfaat dan menyenangkan. Salam hangat dari saya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

9 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts