In Sharing

Bukan Masalah Cerdas atau Gak Cerdas, Ini semua Karena Perbedaan Pola Pikir. So, Sikapi Perbedaan Ini dengan Berpikir Positif, Guys!

 
Foto : Pexels.com

Sedih banget kan saat melihat dan merasakan  kondisi yang saat ini sedikit memanas gara-gara perbedaan pilihan?
Yup, tak perlu saya jelaskan panjang lebar, tentu semua sudah tahu bagaimana kondisi kita sekarang. Maraknya berita-berita yang beredar lewat media sosial, yang entah itu memang benar atau hanya sekedar hoax, pastinya menjadi salah satu pemicu terjadinya situasi yang "kurang nyaman".

Bagaimana Ini Semua Bisa Terjadi?

Perbedaan pilihan itu wajar. Sekali lagi saya katakan, itu wajar. Lumrah sekali. Kita sama-sama sudah saling mengetahui konsep ini, "Beda orang beda kepala. Beda kepala, beda juga otaknya. Beda otak tentu beda pula pemikirannya". Saya yakin semua sudah sangat memahami tentang ini.
Untuk itu, saat kita beda pilihan dengan orang lain, tak perlu berpikiran bahwa hanya orang-orang cerdas yang bisa memiliki pola pikir seperti kita. Jangan sampai. Apalagi kalau sampai kata-kata itu keluar. Tak selamanya apa yang kita pikir itu benar, belum tentu benar menurut orang lain. Karena apa? Bukan karena cerdas dan gak cerdas. Namun semua itu karena perbedaan pola pikir, perbedaan pengetahuan. Sesederhana itu sebenarnya. Memang benar apa kata pepatah yang pernah saya dengar, "Kalau kita berebut merasa benar, maka tidak akan ada ujungnya. Karena semua merasa benar dan gak ada yang mau mengalah. Namun, kalau kita berebut merasa bersalah, tentu perkara tidak akan berkelanjutan".
Kadang, orang diam bukan karena dia tidak berpengetahuan atau gak tau sama sekali. Hanya saja, supaya tidak berlarut-larut, supaya sillaturrahim tetap terjaga.

Jangan Sampai Karena Perbedaan Pilihan Menjadi Penyebab Renggangnya Suatu Hubungan

Bisa kita lihat bersama, karena perbedaan pilihan, marak sekali komentar-komentar negatif muncul baik di media sosial maupun dunia nyata, saling menghujat antar kubu, merasa bahwa kubunya benar dan kubu orang lain salah. Merasa bahwa kita sudah berada di jalur yang benar, karena kita ikut di barisan orang yang benar, menurut kita. Sekali lagi, itu menurut kita.
Memang, berpikir sebaik mungkin, menentukan pilihan yang menurut kita terbaik, itu memang perlu, bahkan harus. Namun, perlu kita ingat juga bahwa kita tidak bisa menyamakan persepsi kita dengan orang lain. Tidak bisa kita menganggap bahwa kita yang paling benar, orang lain salah. Kita yang paling pintar, sedang orang lain bodoh. Kita orang cerdas, sedang orang lain sebaliknya. Sifat meremehkan seperti itulah yang berbahaya. Persatuan yang telah lama kita jalin, akan tercabik begitu saja. 

Bukankah Allah itu sayang terhadap semua makhluk-Nya?
Bukankah yang disayang Allah itu bukan hanya kita?
Bukankah di luar sana masih banyak makhluk Allah yang ibadahnya lebih rajin dari kita? Hatinya lebih baik dari kita? Tirakatnya lebih berat dari kita? Sedekahnya lebih banyak dari kita? Ilmunya lebih tinggi dari kita? Tentu Allah akan lebih menyayangi mereka.


Maka, jangan sekali-kali kita memandang rendah orang lain. Jangan menghujat orang lain. Jangan ikut menyebarkan berita dari yang kamu baca, yang belum tentu kebenarannya. Itu bisa menjadi fitnah. Jangan sampai kita menyebarkan berita yang hanya bermodalkan "berdasarkan yang saya baca" dan berujung fitnah.

Mari kita nikmati semua perbedaan ini, dengan tidak saling menghujat, dengan tidak memandang rendah orang lain. Bukankah semboyan kita "Bhineka Tunggal Ika?"
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

3 Kepercayaan Selama di Pesantren Ini Bakal Bikin Kamu Ketawa Ngakak. Kepoin, Yuk!

Foto : Pexels.com

Hai... Hai...
Sharing, yuk!
Dulu sewaktu kalian ada di pondok, ada gak, sih, kepercayaan-kepercayaan yang lumayan trending, namun sepertinya aneh gitu? Gak masuk akal banget, tapi sukses bikin para santri hampir percaya dibuatnya.

Eits, tapi bukan kepercayaan yang horor-horor gitu, yess. Jadi yang aku maksud di sini semacam anggapan-anggapan, yang entah siapa dulu pencetusnya, gak tau bener enggaknya, gak masuk akal banget, tapi entah gimana awalnya mengalir gitu aja menjadi sebuah opini. * Haiiss... Ngemeng apah aku ini. Haha
Yah, kurang lebih seperti itu lah, Gaes...

Jadi, dulu sewaktu aku di pondok, ada beberapa anggapan yang dianut para santri, kemudian disebarkan dari mulut satu ke mulut yang lain. Apa aja, sih emang?
Kepoin, yuk! (itung-itung sambil bernostalgia jaman-jaman mondok lah, ya).


1. Anggapan bahwa, "Jika kamu mau ikutan haidh juga, mau datang bulan juga, minta injekin aja jempol kakimu pada temanmu yang lagi haidh, sambil bacain sholawat tiga kali"

Hahaha... Lucu banget, kan? Konyol bingit toh? Apa emang iya, bisa nyetrum gitu? Bisa ikutan haidh juga? Wkwk
Aku sendiri juga gak tau lah. Gak pernah denger dalil ilmiahnya jugak si. But, itulah isu yang beredar.
Saat sudah masuk waktunya datang bulan, namun belum datang jugak itu tamu, kami para santri putri biasanya minta injekin aja ke teman yang lagi haidh juga. Itu jempol kaki, diinjekin sama jempol kaki temen yang lali haidh, dibacain sholawat tiga kali, habis itu harap-harap cemas nungguin tamu itu datang. Wekekek
Daan...7 dari 10 santri putri membuktikan, gak sampai satu atau dua hari setelahnya, mereka beneran haidh, datang itu tamu. Wew, enak kan?
Mayan laah...itung-itung dapat diskonan gak ikut jama'ah shalat yang diwajibkan bagi kami. Selain itu, jam tidur malam kami pun otomatis bisa nambah, meskipun cuma 5 sampai 10 menit doang, sih. Haha

2. Anggapan bahwa, "Anak pondok yang suka pete itu otomatis anaknya cantik-cantik"

Untuk yang kali ini malah lebih konyol lagi, kan?
Emang iya, yang doyan pete itu hanya yang cantik-cantik doang?
Yang gak mau pete, berarti gak cantik, dong? Wkwk

Au aah, yang jelas itu dulu juga sempet tranding di jaman saya mondok. Bahkan, saking manjurnya gosip itu, ada adik kelas aku yang rela banget buat maksain suka pete, padahal sebelumnya dia gak mau sama sekali, hanya demi ngikutin idolanya (mbak-mbak senior), yang emang pas doyan pete juga. Haha
Emang aneh, emang gak masuk akal banget, emang konyol banget. Tapi begitulah kami dulu, dan itu yang bikin kami merindukan masa-masa mondok yang seperti dulu.

3. Anggapan bahwa "Gatelen/Gudiken itu laksana stempel, kalau kamu mondok, belum pernah gudiken, itu berarti ilmu kamu belum masuk"

Kikikikikk...
Untuk yang kali ini agak bener, bener atau bener banget, Gaes? Wkwk
Yang dulu pernah nyantri, tapi gak pernah gatelen sama sekali ada gak? Atau mungkin ada yang pernah sakit mata?
Yaps, untuk yang point ini saya yakin sekali kalau kalian yang pernah mondok, pasti pernah laah yang namanya ngerasain gatal-gatal atau bisa jadi ngerasain sakit mata. Mengapa? Karena itu laksana stempel. wkwk
Kalau menurut saya sih itu karena ujian awal kita saat memantapkan niat untuk mondok.
Kuat gak dikasih ujian ini?
Kuat gak buat gak ngeluh?
Kuat gak buat gak boyong dari pondok dan tetap bertahan untuk nyantri?

Kenapa musti ada hal-hal mengerikan seperti itu?
Yess, jawabannya sungguh simple. Karena mondok itu mulia. Karena nyantri itu butuh tirakat. Karena hasil dari nyantri itu tak terkira. Tak terhitumg jumlahnya.

Sungguh, bersyukurlah kalian yang dulu ataupun sekarang kalian itu pernah nyantri, pernah mondok, karena nyantri itu mulia. Pengalaman di luar bisa kau dapatkan di dalam pondok, namun pengalaman di pondok tak mungkin bisa kau dapatkan di luar. Setuju, Gaes?


Terima kasih. Syukron Lakum, bagi pembaca setia www.nurulfatikah.com
Semoga tulisan-tulisan yang masih acakadul ini selalu bisa menebar manfaat, bisa mendatangkan semangat bagi para santri dan calon santri di manapun kalian berada.


Salam,
Blogger An-Nur

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Mengingat Kembali 3 Dhawuhnya Romo Kyai Qusyairi, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" yang Penuh dengan Kearifan


Assalaamu'alaikum, Sahabat Blogger Nusantara!

Kali ini saya akan sharing sedikit tentang sosok kyai sepuh di kabupaten Malang, yaitu K.H. A. Qusyairi Anwar. Mungkin ada beberapa di antara Sahabat yang belum begitu paham siapa beliau, namun bagi Sahabat yang hidup di kalangan pesantren, khususnya di kabupaten Malang, tentu sosok Romo Kyai Qusyairi sudah tidak asing lagi untuk didengar. Ya.. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang-Malang.

Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" terletak di Jl. Diponegoro No. IV Bululawang, sebelah selatan Pasar Bululawang. Tempatnya yang strategis dan dekat dengan jalan raya memudahkan bagi siapapun yang ingin berkunjung dan mengenal lebih dalam dengan Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Nama "Murah Banyu" yang tergolong unik tentu menjadi magnet tersendiri untuk mudah diingat bagi siapapun yang mendengar.

Kembali pada sosok Kyai Qusyairi, beliau kyai yang sangat ramah kepada siapapun. Beliau juga sosok kyai yang "ngajangi jembar" kepada seluruh santrinya untuk belajar dan mengembangkan bakatnya sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan dihadirkannya tim jurnalistik dari media terkenal untuk membimbing para santri yang berminat di bidang literasi. Tak hanya tim jurnalistik, kyai juga menghadirkan beberapa novelis untuk membangkitkan semangat para santri yang ingin menjadi penulis novel. Beliau juga menghadirkan penjahit profesional untuk membimbing santri yang suka akan dunia tata busana. Beliau menghadirkan guru kaligrafi untuk santri-santri yang suka di dunia seni. Bahkan masih teringat dengan jelas di ingatan saya, untuk mengisi liburan sekolah yang hanya satu minggu, saat itu kyai menghadirkan cheff terkenal untuk membekali dunia tata boga para santri.
Ah, rasanya tidak cukup kata-kata ini untuk menuliskan betapa banyak yang telah kyai berikan untuk kami para santri. Di samping itu, sosok kyai Qusyairi membuktikan bahwa di dalam dunia pesantren, santri tidak melulu diajak ngaji dan maknai kitab kuning. Namun, kyai mengajak para santri untuk lebih bisa mempersiapkan diri, bagaimana cara untuk menghadapi masa depan seiring dengan perkembangan zaman. Selain pintar ngaji, pintar baca kitab kuning, arif dalam ilmu agama, namun santri juga diharapkan cakap akan ilmu-ilmu teknologi.

Begitu jelas di ingatan saya, kyai Qusyairi nimbali semua santri putrinya dengan sebutan "wong ayu". Tak peduli dia putri pejabat, dia anak orang kaya ataupun dia anak orang biasa, semua dipanggil dengan "wong ayu". 
Kyai yang setiap pagi saat santrinya sedang ro'an, beliau keliling dengan sepeda pancalnya yang berwarna biru. Kyai yang di setiap kesempatannya, saat dini hari sebelum shubuh, kerap kali terlihat berkeliling pondok untuk melihat santri yang bangun untuk sholat tahajud.

Saat ngaji pagi, kami para santri biasa menyebutnya "Ngaji Yai", selalu ada pesan-pesan singkat yang kyai dhawuhkan pada kami. Ngaji Yai memang tidak sampai lama, mungkin hanya 15-30 menit saja. Dhawuh-dhawuhnya yang terkesan santai dan pendek, namun begitu berbobot dan selalu terpatri dalam ingatan saya. Adapun dhawuh-dhawuh beliau yang sampai saat ini selalu teringat dalam diri saya, antara lain :

1. Barokah itu Laksana Angin, Tak Bisa Dilihat Namun Bisa Dirasakan

Begitulah kira-kira dhawuhnya kyai, bahwa barokah itu seperti angin, keberadaannya tidak bisa kita lihat namun bisa kita rasakan.
Itulah mengapa, kerap kali kita lihat, banyak santri yang berlomba-lomba mencari barokah. Kami para santri percaya, jalan untuk mencari barokah itu banyak sekali. Ada yang berlomba menata sandal/sepatu ustadz/ustadzahnya, ada yang berebut salim dan mencium dengan ta'dhim tangan kyai/ibu nyai, barokahnya berjuang, barokahnya ngabdi di pondok, barokahnya mengamalkan ilmu dan masih banyak lagi barokah-barokah lain yang selalu kami kejar.

2. Santri iku Ojo'o Ditandur, Dibuak ae Cukul

Santri itu jangankan ditanam, dibuang aja pasti tumbuh. Begitulah kira-kira maksud dhawuhnya kai. Kyai berharap, dengan segala ilmu dan pengalaman yang telah santri dapatkan selama di pesantren, seorang santri bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain ketika nanti hidup dalam masyarakat. Saat diminta menjadi imam sholat, siap. Saat diminta menjadi pembawa acara, bisa. Saat disuruh berpidato, berangkat. Itulah santri menurut kyai Qusyairi, "ojo'o ditandur, dibuak ae cukul". Aamiin, Yai... Semoga kami bisa memenuhi harapan Panjenengan.

3. 'Isy Kariiman Au Mut Syahiidan 

Sebuah hadits yang seringkali beliau dhawuhkan berulang-ulang. "Hiduplah dengan mulia atau mati dalam keadaan mati syahid". 

Bismillah. Ridhoi perjalanan kami, Yai.. Ridhoi perjuangan kami. Semoga di mana pun kami berpijak, kami bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar. Kami bisa menjunjung tinggi nama baik pesantren kami, Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Terakhir, akui kami sebagai santrimu, Yai.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk rasa cinta saya kepada pesantren, sebagai bentuk cinta dan ta'dhim saya kepada Panjenengan, Yai..
Dan untuk teman-teman seluruh santri alumni PP. An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang, sempatkan, luangkan untuk hadir di acara besar kita, acara bersama kita, Reuni Akbar tanggal 10 Maret 2019. Akan ada banyak kejutan yang telah panitia siapkan untuk teman-teman tercinta.


Salam Iksamba

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Baper Gegara Media Sosial? Ketemu Mantan atau Mungkin Teman Dekat? Boleh, Asal Jangan Sampai Baper Berkelanjutan!

 
Foto : Pexels.com

Hai... Hai... Sahabat Blogger semua!

Zaman modern seperti sekarang ini, hampir semua orang memiliki sebuah benda yang bernama android. Mulai dari kalangan remaja sampai orang tua. Mulai dari kalangan orang biasa saja, sampai orang berada. Hampir semuanya mempunyai android.

Android merupakan sosok benda kecil yang sepertinya sudah menjelma seperti jimat saja. Iya, karena benda kecil satu ini ke mana-mana selalu dibawa. Di manapun dan kapanpun selalu dikantongi. Iya, gak, sih, Guys?
Saat kamu bersantai, saat kamu bepergian, saat kamu ke tempat kerja  bahkan saat kamu ke kamar mandi pun benda kecil ini ngikut aja *pengalaman juga, sih. wkwk
Begitulah, smartphone memang sudah menjadi benda yang wajib banget dibawa ke manapun.

Android vs Media Sosial

Nah, berbicara tentang android, tentu erat kaitannya dengan istilah media sosial, entah itu facebook, whatsapp, instagram, twitter dan yang lainnya. Hampir semua orang yang memiliki smartphone, kemungkinan besar memiliki akun media sosial. 
Tak seperti dulu, media sosial yang dulunya hanya diramaikan oleh kalangan anak muda, kini telah menjalar ke semua lapisan generasi. Banyak sekali emak-emak hits, bapak-bapak yang tak kalah nge-hits sering bermunculan di beranda. Iya, gak? hehe
Lagi masak, jepret, lanjut post. Lagi ngopi, jepret, lanjut post. Jalan-jalan, piknik, belanja, makan, apapun itu, jepret, lanjut post. 
Tidak bisa dipungkiri lagi, memang kita sekarang berada di zaman millenial. Semuanya berkaitan erat dengan dunia maya.

Ketika Media Sosial Menjadi Hiburan yang Menyenangkan

Memang wajib kita akui, bahwa dengan munculnya media sosial mendatangkan hiburan tersendiri bagi kita. Berkat jejaring sosial ini, saudara yang tinggal jauh dan tidak pernah bertemu, kini bisa kembali berkumpul dan bertegur sapa setiap hari. Persahabatan yang dulunya sempat terputus, kini kembali terjalin. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mantan yang sudah terlupakan, kini kembali bertemu dan kembali saling menyapa melalui dunia maya. Eaaakk... *eh
Memang tidak ada yang salah dengan ini semua. Zaman sekarang kalau kita tidak mengikuti perkembangan zaman, nanti kita dikatai kudet-lah, katrok-lah atau apalah itu.

Ketika Virus "Baper" Mulai Melanda

Bahagia, senang atau semacamnya. Mungkin itu yang dirasakan sebagian orang yang tidak sengaja bertemu mantan atau teman lama. Berawal dari saling add pertemanan dan konfirmasi, atau mungkin berawal dari tergabungnya dalam satu group whatsapp. Lanjut bertegur sapa, saling berbalas komentar di postingannya, stalking foto-foto di media sosial "dia", hingga tak sedikit dari mereka yang lanjut berbalas pesan di jaringan pribadi.

Berdalih ini wajar, hanya menyambung sillaturrahim saja, hanya menjaga persahabatan saja, hanya hiburan saja. Begitulah. Hingga lama-lama pertemanan yang kembali terjalin itu terasa nyaman dan bagai candu. 
Mulai mencari-cari postingan dia. Senyum-senyum sendiri saat chatting dengan dia. Saling curhat. Saling berbagi keluh kesah. Semakin sering stalk akun dia. Dan mulai terpikir, "Mengapa aku dulu tidak sama dia saja?".
Lanjut mulai membandingkan antara dia dan pasangan sah kita. Mulai membayangkan jika saja bersama dia.
Pesan-pesan teks langsung dihapus, takut dibaca suami/istri kita.

Hai... Hai... Sadar, Guys!
Kalau sudah sampai di tahap ini, segera sadarkan diri kamu! Stop it! Pliiiss...
Hentikan sekarang juga, Dears!
Persahabatan yang seperti ini sudah bukan persahabatan yang sehat lagi. Tak perlu menjalin pertemanan yang seperti ini.
Kalau ada yang bilang rumput tetangga itu lebih hijau, jangan percaya, Guys!
Karena kadang ada yang malah layu. hihi

Selain itu, akan ada hati yang terluka. Akan ada banyak pihak yang dikecewakan.
Ingat anak-anak!
Ingat pasangan!
Ingat keluarga besar!

Apa yang Menjadi Milikmu Sekarang, Percayalah itu Takdir Terbaik dari Allah 

Tak usah membandingkan dia dan pasangan sah kita. Pasangan sah kita sudah pasti jodoh terbaik yang Allah siapkan. Kalaupun dulu kamu bersama dia, hidupmu belum tentu sebaik sekarang. Belum tentu se-bahagia seperti sekarang.
Yuk, ah, mari kita gunakan media sosial secara positif. Baper sebentar boleh, asal jangan sampai baper yang berkelanjutan, ya, Guys!

Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kalimat yang kurang berkenan. Terima kasih sudah berkunjung.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih banyak pada "sahabat fillaah" saya yang telah menginspirasi saya untuk menulis ini. Terima kasih telah memberikan izin untuk saya tulis. Panjenengan hebat karena telah berhasil mengatasi 'kebaperan' yang sempat menyerang. Semoga selalu sakinah bersama pasangan dan keluarga Panjenengan.

Tulisan ini juga sebagai cambuk pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga keluarga kita semuanya senantiasa sakinah, mawaddah wa rohmah, Dears.

Salam,

Bunda Nadhifa

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Kamu Termasuk Blogger yang Mau Move On dari "Malas Nulis"? Kuy, Ikuti Program "SETIP with Estrilook"!

Hai... Hai...
Adakah di sini yang bernasib sama seperti saya?

Yess. Saya, emak-emak yang punya baby balita, setiap harinya kerja di luar, namun memiliki cita-cita besar. Berharap banget bisa menjadi blogger profesional, yang setiap harinya istiqomah nulis hal yang bermanfaat di blog pribadi. Namun, sepertinya hal itu hanya sebatas cita-cita dan harapan. Karena pada kenyataannya, saya masih belum bisa disiplin dan ajeg. Saya nulis hanya ketika saya mau, atau kalau gak gitu, saya nulis hanya ketika saya lagi dikejar-kejar deadline tertentu.

Tak jarang, hati kecil saya selalu menyalahkan diri saya sendiri, kenapa saya belum juga bisa rutin menulis, namun saya selalu berkilah dengan berbagai bentuk MKPD (Mekanisme Pertahanan Diri alias banyak alasan), alasan masih banyak kesibukan penting lainnya lah, capek lah, lagi gak mood lah. Ada gak, sih, yang kayak saya gini?

Padahal, nih, ya, kalau dipikir-pikir, bukankah mereka para blogger profesional juga sama-sama memiliki kesibukan?
Bukankah setiap orang juga memiliki kepentingan yang gak sedikit?
Mereka juga bisa merasakan capek. Ada kalanya mereka juga bisa jenuh dan malas.
Namun, mengapa mereka bisa melawan itu semua, sedangkan kita tidak?

Iya, gak, sih?

Saya yakin, kita semua, para blogger yang lagi diserang rasa malas, pasti memiliki tekad yang kuat untuk segera bisa move on dari "Malas Nulis". Iya, kan?
Nah, saya ada info bagus dan penting banget, nih. Ada program yang namanya "SETIP with Estrilook". 
Apa itu? Seminggu Tiga Postingan bersama estrilook. Jadi, kita para blogger diajak untuk belajar istiqomah nulis. Satu minggu cukup tiga kali postingan saja. Nah, kan. Sepertinya ringan, ya? Yang berat itu, istiqomahnya. Semoga bisa, ya.

Sebelum saya jelaskan tentang syarat-syarat SETIP, apakah teman-teman di sini sudah mengenal apa itu estrilook?

www.estrilook.com merupakan sebuah situs website inspirasi wanita Indonesia yang CEO dan Foundernya tak lain adalah teman saya sendiri semasa di Pesantren dulu, Muyassaroh, pemilik blog www.muyass.com
Informasi lebih lengkap tentang estrilook bisa diakses melalui https://estrilook.com/, ya.

Selanjutnya, bagi teman-teman yang mau ikutan program SETIP with estrilook, syaratnya mudah kok.

Syarat SETIP :

1. Share tentang SETIP di Social Media kamu yaitu IG, FB, Twitter atau media social lainnya yang kamu punya. Jika hanya punya salah satu tak apa, yang penting posting mengenai SETIP supaya lebih banyak orang yang bisa ikutan.

2. Share gambar SETIP serta syaratnya dan mention juga minimal 2 teman kamu yang belum bergabung di Grup FB Estrilook.

3. Follow akun Estrilook Community di Instagram. Like Fanpage Estrilook dan bergabung di Grup FB Estrilook Community
https://www.facebook.com/groups/234318230607581/?ref=br_tf&epa=SEARCH_BOX

4. Posting mengenai SETIP di blog kamu dan alasan kenapa kamu mau ikut SETIP. Jangan lupa sertakan juga link estrilook.com di postinganmu,  ya.

5. Konsisten untuk ikut SETIP dan tak mundur di tengah jalan.

6. Jika ada yang tertinggal dalam event SETIP ini, boleh merapelnya.

7. Akan diberikan waktu hanya satu minggu ketika event SETIP selesai untuk mengejar ketertinggalan.

8. SETIP akan berlangsung selama 3 bulan, mulai Februari hingga April 2019. Tetap amanah dan tak banyak alasan ketika mengikuti event ini.

9. Jangan lupa setor link postingan kamu di grup FB Estrilook Community pada postingan yang telah disediakan oleh admin.

10. Postingan di blog masing-masing dan disetorkan setiap hari Senin,  Rabu,  dan Jumat. 


Kuy, semangat ngisi blog kita!
Semoga setiap rangkaian kata yang kita tulis bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Aamiin.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

Siapa Tahu, Hal Kecil Ini Bisa Menjadi Perantara Barokahnya Rezekimu dan Sakinahnya Keluargamu!

Foto : Pexels.com
Assalamu'alaikum, Sahabat Blogger!

Bisa berbagi kepada sesama tentu impian bagi semua orang. Saling memberi dan saling membantu sungguh sesuatu yang indah. Saat melihat orang lain tersenyum bahagia karena bantuan yang telah kita berikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri pada hati kita. Bukan karena kita telah membuat orang lain merasa berhutang budi, namun ada rasa bahagia dan syukur pada diri kita karena telah bisa berbagi di saat orang lain sedang membutuhkan. Biidznillah tentunya.

Memang, berbagi dan membantu itu tak hanya tentang uang ataupun materi. Berbagi bisa berupa tenaga, pikiran ataupun bentuk jasa lainnya. Namun, meskipun begitu, berbagi atau sedekah sepertinya identik dengan uang atau materi dalam pandangan kita. Sehingga ada beberapa orang yang beranggapan bahwa berbagi atau sedekah itu "sedikit berat" untuk dilakukan. Dengan alasan belum ada uang lebih, ada juga yang beralasan masih memiliki kebutuhan yang banyak dan masih ada banyak lagi sederetan alasan yang bisa membuat kita menunda sedekah. Padahal, istilah sedekah tidak bisa kita artikan sesempit itu.

Nah, kali ini saya akan membahas sedikit tentang hal sepele, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita, namun, siapa tahu hal ini bisa menjadi perantara barokahnya rezeki serta sakinahnya keluarga kita.

Usahakan, Tak Usah Menawar Saat Kita Membeli  Sesuatu pada Pedagang Kecil!

Dears, pernah suatu ketika saat saya hendak membeli ikan mujaer di pasar, di sebelah saya ada seorang ibu yang sedang tawar-menawar harga mujaer, Rp. 26.000,- kalau gak salah.
'Wajar', pikir saya saat itu.
Saya pun menunggu antrian. Setelah agak lama, sepertinya suasananya terasa sedikit memanas karena mereka sempat eyel-eyelan uang seribu rupiah, akhirnya ibu penjual itu mengalah dengan menurunkan seribu rupiah sehingga menjadi Rp. 25.000,-.

Saya pun masih menyimak. Ternyata ibu pembeli itu hanya membeli setengah kilo, itu artinya, dari tadi beliau memperjuangkan uang lima ratus rupiah. Masyaallah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, setelah beliau menerima ikan mujaer yang telah ditimbang, ibu itu hanya menyerahkan uang Rp. 12.000,- ke tangan ibu penjual dan bergegas pergi tanpa ngomong apa-apa. Ibu penjual pun hanya melongo dan memilih untuk mengalah, meskipun sambil menggerutu.

Menyaksikannya, saya seolah antara kepingin tertawa dan menangis. Astaghfirullah. Padahal jelas sekali, di dalam dompet ibu pembeli tadi masih ada uang lebih. Tapi kenapa ibu pembeli tadi sampai setega itu?

Dears, marilah kita tata kembali pola pikir kita!
Saat kita membeli pada pedagang kecil, selama harga yang mereka kasih masih dalam batas wajar, selama uang kita masih cukup, kenapa tidak langsung kita iyakan saja?




Mereka para pedagang kecil, dalam mematok harga tentunya sudah selayaknya harga pasar. Andaikan lebih mahal pun, tak mungkin berbeda terlalu jauh. Dalam mencari keuntunganjuga tak mungkin terlalu banyak. Benar, bukan?


Banyak kita jumpai di pasar-pasar kecil, di pinggiran jalan, banyak sekali pedagang yang sudah tua renta, badannya sudah ringkih dan lemah, tidak sedikit pula di antara mereka yang tuna netra, namun mereka lebih memilih berjualan demi sesuap nasi daripada harus meminta-minta. Lalu, masih tega kah kita untuk menawarnya demi turunnya harga yang mungkin sekitar lima ratus sampai lima ribu rupiah?

Lihatlah!

Dagangannya saja hanya hitungan jari. Tidak banyak. 
Lalu kenapa tidak langsung kita bayar saja tanpa harus ditawar?Bukankah itu akan membuat mereka bahagia?
Apalagi kalau kita mau berbesar hati memberikan uang lebih saat kita membayar, mereka yang benar-benar membutuhkan akan sangat terbantu dengan uang dari kita yang mungkin tidak begitu berarti bagi kita. Dan tak jarang, saking bahagianya, mereka dengan ikhlas mengucapkan banyak sekali do'a-do'a baik untuk kita, untuk keluarga kita, berulang-ulang. Bukankah do'a-do'a seperti itu akan langsung diijabah oleh Allah?
Rugi apa kita kalau sudah seperti itu?
Uang yang mungkin tak seberapa bagi kita, akan mendatangkan banyak kebaikan pada diri kita, pada keluarga kita. Yakinlah!
Janji Allah sungguh nyata.
"Lain syakartum la aziidannakum, wa lain kafartum inna 'adzaabii lasyadiid".

Semoga bermanfaat, ya, Dears! 
  

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

Kegiatan "Monday Fun", RA Plus Amanah Bunda Mampu Membuktikan bahwa PAUD Tak Melulu tentang Bernyanyi dan Menari

 
Foto : Dokumentasi Pribadi

Part 1
"Sains is Fun"

***
Pernah menjadi Sekolah Unggulan No. 1 se-Kabupaten Malang, RA Plus Amanah Bunda tentunya memiliki nilai plus tersendiri dibanding sekolah yang lainnya. RA yang berada di daerah Tambakasri - Tajinan - Malang ini berhasil mendapatkan gelar RA Unggulan Terbaik No. 1 se-Kabupaten Malang pada tahun 2012. Kegiatan belajar dan bermainnya cukup inovatif. Hal ini dapat kita lihat antara lain dengan adanya beberapa kegiatan yang memang berbeda dengan sekolah-sekolah PAUD yang lain, salah satunya adalah "Monday Fun".

Pihak sekolah berusaha menciptakan suasana hari Senin menjadi hari yang menyenangkan untuk anak-anak. Senin, yang biasanya terasa begitu malas untuk berangkat sekolah karena usai libur/weekend, RA Plus Amanah Bunda mampu menumbuhkan semangat anak-anak untuk masuk sekolah.

Mengapa Bisa Seperti itu?
Ya. RA Plus Amanah Bunda memiliki sederet kegiatan menyenangkan untuk mengisi hari Senin, salah satunya adalah "Sains is Fun". Sains is Fun dilaksanakan setiap satu bulan sekali di bawah tanggung jawab Bu Yuni Novita, S. Si.
Adapun jenis kegiatannya itu bermacam-macam, tergantung pada tema yang berlangsung pada saat itu.
Foto : Dokumentasi Pribadi

Misalnya seperti pada tema Gejala Alam, beliau membuat percobaan gunung meletus. Adapun bahan yang dibutuhkan seperti pasir, pewarna merah, cuka dan soda kue.
Pada tema Air, Udara, Api, beliau membuat tornado dalam botol, balon yang mengembang tanpa ditiup dan masih banyak lagi percobaan-percobaan yang beliau ajarkan pada anak-anak.

Dengan adanya Sains is Fun ini, pihak sekolah mengajak anak-anak untuk menjadi ilmuwan cilik yang cerdas dan mau mencoba. Selain itu, Monday Fun ini sukses membuat anak-anak mau berangkat sekolah di hari Senin dengan semangat tanpa rewel. 

Selamat belajar para ilmuwan cilik RA Plus Amanah Bunda!
Semoga ilmu kalian bermanfaat. Tetap semangat, ya!
 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

4 Info Penting bagi Suami Saat Istrimu Mengeluh Sakit, Nomor 3 Semi Wajib, lho. Kepoin, yuk!

 
Foto : Pexels.com

Hi, para suami pembaca blog!

Sesekali boleh lah, ya, menyapa para suami. wkwk
Eh tapi buat para calon suami juga, sih.
Kalau menurut saya sebagai wakil dari para emak jaman now, suami tuh wajib banget tahu tentang info penting di bawah ini.

Pernah gak, sih, istri kalian ngeluh yang capek lah, pusing lah, badan crekut-crekut lah, perut mual dan lain-lainnya? Pasti jawabannya pernah banget, kan? Atau bahkan terdengar sering? Sampai-sampai kalian yang baru pulang kerja ngerasa bete juga, udah capek-capek pulang kerja, istrinya di rumah malah ngeluh sakit.
Bapak-bapak tau sendiri, kan, beratnya kerjaan rumah itu seperti apa. Belum lagi ditambah momong si kecil yang subhanallah menguras tenaga. Ya, kerjaan yang tiada habisnya namun sering tak terlihat. (Kalau yang bab ini kuyakin pasti emak-emak pada setuju, deh. wkwk)
So, kalau istri sedang sakit, hal apa sih yang seharusnya para suami lakukan?

1. Sentuh Dia

What???
Iyess, sentuh dia, Pak.

Saat istrimu ngeluh pusing, sentuh kepalanya.
Kalau mual, sentuh perutnya.

 Lha terus, kalau suami pas lagi capek, gimana, donk? Ya udah, pura-pura aja pijitin, elus-elus aja juga udah cukup. Dijamin, istrimu bakal bahagia banget, deh, punya suami model Bapak. Hehe

Kok bisa?
Bisa. Karena sentuhan tangan suami itu laksana mantra ajaib. Percaya deh.


Pak... Sakitnya istri itu tak selamanya wajib berobat ke dokter, ya, Pak. Terkadang, cukup kalian kasih sentuhan atau pijitan ringan, rasa sakit istrimu bisa lenyap seketika. Asli, lah. Pengalaman pribadi juga, sih. Hihi
Kuy, sebanyak apapun duit Bapak, jangan langsung asal paksa berobat ke dokter, rasanya mah bakal beda Pak. Sumpah.

2. Segera Ajak Periksa

Kalau udah dikasih sentuhan kok masih sakit? Itu berarti sakitnya berada di level 2 Pak. Gak cuma sakit gegara minta dimanjain, artinya istri Bapak sakit beneran. So, segera ajak ke dokter atau bidan terdekat, ya, Pak.

3. Tawari Dia Shopping atau Piknik

Noh... Kalau yang ini mah wajib bangeet, Pak, terlepas dari istri kalian sekedar capek atau memang sakit.
Capek, sakit, kok diajak shopping?
Capek, sakit, kok diajak piknik?

Bukannya nanti tambah capek?
Bikin makin parah?
Percaya sama saya, deh, Pak. Kalau istri sakit, sudah disentuh, sudah dipijitin, diantar ke dokter gak mau, trus musti diapain sebagai wujud perhatian suami?

Jawabannya adalah ajak dia shopping, piknik, makan di luar atau sejenisnya. Dijamin, bakal lenyap tuh si penyakit. Insyaallah. Selama sakitnya masih dalam batas wajar, loh, ya. 

Eh, kok bisa sih?
Emang shopping, piknik, bisa bikin sehat?
Bisa banget, Pak. Entahlah. Karena saya pun demikian. Enggak tau kok bisa gitu. Yang jelas, saat saya merasa gak enak badan, liat barang-barang baru, liat baju-baju baru dengan tren terkini, liat hiruk pikuk orang, liat jalanan ramai, itu sudah cukup manjur buat dijadikan obat. Suer laah

Emak-emak juga setuju, kan? wkwk

4. Bantu Sebagian Pekerjaan Rumahnya

Kalau ketiga cara di atas udah Bapak lakuin, ditambah lagi satu cara ini, lengkap sudah. Bapak patut banget dinobatkan sebagai suami idaman. wkwk
Asli, Pak. Bener. Saat istri sakit, bantu sebagian pekerjaan rumahnya. Gak harus semuanya, Pak. Cukup pekerjaan-pekerjaan primernya aja. Kayak nyapu, nyuci baju, nyuci piring. Sukur-sukur (eh, bahasa apaan, ya, ini) kalau bapak mau kasih bonus ngepel, masak, mandiin anak. Hehe

Udah deh, ini aja tips jitu dari saya buat para suami yang istrinya sedang sakit. Jangan lupa dicoba, ya, Pak. Yakin deh, istrinya pasti jadi lebih terkiwir-kiwir sama Bapak. Gak ada ruginya, kok, Pak memuliakan istri itu, justru Allah akan menggantinya dengan rizki yang berlipat. Insyaallah. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama estrilook community
#day16

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

10 Hal Gila yang Pernah Saya Lakukan Saat di Pesantren, Konyol dan Tak Terlupakan

 
Foto : Pexels.com

Hai... Hai...
Kali ini tulisan saya berasa ekstrem banget, nih. Bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu saya mendapat tantangan dari sahabat penulis yang sekaligus Founder estrilook.com, Muyassaroh. Saya ditantang untuk membuat tulisan dengan tema "Hal Gila yang Pernah Gua Lakukan Saat di Pesantren". Fiuh... Ini mah sama dengan buka kartu saya, donk. wkwk.. Secara, saya kan dulu orangnya gila banget, meskipun sampai sekarang masih gila juga, sih. Bahkan, sepertinya makin parah, dah. Haha

Beberapa jam yang lalu, 2 teman saya sudah share tulisan mereka dengan tema yang sama juga. Noh, kegilaan yang mereka tulis ternyata cuman 5 dan 7. Lha ini saya kok banyak banget, sampai 10. Nah, loh... Segila itukah saya dulu, Guys? Hiks
Dan itupun sepertinya masih belum ketulis semua. Haha

Nah, emang kegilaan seperti apa, sih, yang pernah saya lakukan dulu di Pesantren? Kalau masalah makan beralaskan plastik, hampir tiap hari, bahkan pernah makan beralaskan plastik bungkusnya p*mbalut. wkwk
Lalu, apa kegilaan lainnya yang pernah saya lakukan? Kepoin, yuk! 

1. Saat Ulang Tahun Dikerjain Ustadzah dan Teman-Teman, Ganti Aku yang Ngerjain Mereka

Jadi ceritanya, waktu itu saya awal-awal mondok. Nah, setelah jam musyawaroh selesai, saya ditimbali ustadzah ke kantor, intinya saya disidang karena kasus dengan anak laki-laki. Katanya saya surat-suratan dan sebagainya. What? Jaman itu saya mah belum tau apa-apa bab begituan. Mati-matian saya membela diri, merasa gak bersalah sama sekali. Namun, ustadzah itu kekeuh nyidangnya, terakhir nyangkut-nyangkut pengorbanan orang tua. Langsung tumpah tuh air mata saya. Sampai misek-misek kalau kata orang Jawa. Akhirnya ustadzah dan teman-teman pada ngumpul dan bilang kalau itu cuma ngerjain saya dalam rangka ulang tahun saya. Masih sambil nangis terisak, saya punya ide gila.
"Saya kerjain aja nih orang-orang", batin saya saat itu.
Kemudian dengan masih terisak, saya pura-pura kejang  dan bilang kalau jantung saya kambuh. Haha.. Licik banget, ya, saya. Sontak mereka bingung. Ada yang bingung nyarikan air putih, ada yang bingung menghibur saya, sementara ustadzah itu bingung minta ampun sambil minta maaf. Hihi... Puas banget, deh. Duh, semoga ustdzah itu baca tulisan saya ini. 'Maaf, nggih, ustadzah ning Atik. Maafkan kelicikan saya saat itu'.
Dan, tahu tidak, siapa dalangnya ini semua? Konon, ya mbak Muyass lah dalangnya.
Eh, by the way, terima kasih, Kawan!

2. Nulis Curhatan di Buku Pelajaran, Ketahuan Guru dan Dibacakan di Depan Kelas 

Nah, ngapain juga saya waktu itu nulis curhatan kok di buku pelajaran, ya? Gila banget, kan?
Saat itu saya kelas 2 Aliyah, pelajaran Matematika. Pak Ali Mahfudz nama gurunya. Tiba-tiba, pas pertengahan pelajaran beliau berbicara.
"Pak... Buk... Aku gak kerasan, Buk... Aku ingin pulang. Di sini gak enak, Buk". Blaaa... Blaa. (read:sebagian disensor. wkwk)
Beberapa kali beliau mengulangi itu sambil senyum-senyum melirik saya. Firasatku gak enak, kok beliau terus melirik saya. Jreengg... Saya pun teringat coretan pensil di halaman paling belakang. Dan di sana masih tertulis dengan jelas meskipun dengan pensil. Panas dingin pipi saya waktu itu saking malunya. Teman-teman sekelas saya saling pandang dan bertanya. Mbak Muyass, teman sebangku saya yang akhirnya paham kejadian sebenarnya, langsung ikutan tertawa cekikikan. Dan setelah itu, Pak Ali menjadi hafal dengan saya.

3. Kecebur Blumbang (Kolam) yang Kotor Banget, dan Dipaksa Pakai Baju Jadul

Lagi-lagi, ini terjadi saat saya ulang tahun. Saat itu saya sudah STIKK (kuliahnya diniyah). Gelagat teman-teman yang mau ngerjain saya sudah kerasa sejak satu hari sebelumnya. Saya sudah jaga-jaga dan terhitung aman untuk hari itu. Namun, keesokan paginya, saat selesai makan, tanpa berpikiran apapun saya dengan santainya cuci tangan di blumbang depan kamar. Mbak Linda, yang saat itu wajahnya keliatan polos dan lugu banget, gak ada bau-bau jail, menghampiri saya seperti mau ngomong sesuatu. Tanpa diduga, dia ndorong saya ke blumbang. Sukses.
Bisa dibayangkan, saat itu anak-anak sedang ngaji diniyah, ada ustadznya, sukses jadi pusat perhatian. Pintu kamar dikunci dari dalam, pintu almari kuncinya disandera. Teman-teman gak ada yang mau bantuin dan saya cuma dikasih rok batik semacam jarik, blousenya jadul banget kayak punya nenek-nenek dan jilbabnya asli saat itu kategori ketinggalan jaman. Kalau mau ke kamar mandi, musti melewati kantor, halaman Aliyah yang saatnya anak putra masuk dan pondok belakang yang saat itu juga dipakai diniyah. Namun, gara-gara kejadian itu, ada salah satu ustadz yang tanya ada apa, dan saya dapat traktiran coklat buat teman-teman satu kelas. hihi..
Matur sembah nuwun, Ustadz Juwaini... Terima kasih, kawan-kawanku.

4. Pakai Celak Satu Mata (Sisihan)

Saat itu saya juga sudah STIKK. Saya itu memang selalu mbulet di awal dan kesusu di akhir. Seperti biasa, setiap pagi pukul setengah 8 waktunya ngampus. Pas dandan mau ngampus, ada satu teman yang bilang bahwa Pak Salam sudah rawuh. Sontak, semuanya lari terbirit-birit termasuk saya yang masih pakai celak satu mata karena beliau memang salah satu ustadz yang hadir tepat waktu dan disegani. Alhasil, ngampus dengan celak mata sisihan. wkwk

5. Bawa Camilan ke Kampus, Tumpah Saat Jam Pelajaran

Salah satu tradisi kami dulu saat ngampus yang sangat tidak patut ditiru adalah bawa camilan ke kelas biar tidak ngantuk saat ngaji. Nah, saat itu saya bawa mie. Pas lagi asik maknai kitab, saya merasa ngantuk. Jurus ngemil saya keluarkan. Lha tanpa sengaja itu mie jatuh dan ambyar berantakan. Malu dan takut yang saya rasakan saat itu. Teman-teman saya malah menertawakan. Ustadznya saat itu hanya melirik sekilas dan tersenyum tanpa berkomentar apa-apa. Duh, maafkan saya, Ustadz.

6. Usilin Syaikh Saat Ngaji Bahasa Arab

Sudah kebayang, kan, bagaimana puyengnya saat belajar Bahasa Arab, yang menjelaskan orang Mesir, pakai Bahasa Arab pula. Saat beliau tengah menjelaskan pelajaran terkait yang dilanjut dengan tanya jawab, saya tiba-tiba nyeletuk dengan suara lirih.
"Duh kah Syekh, ngomong opo se?". Saya pikir Syaikh gak mungkin paham.
Seketika, sebagian teman-teman saya yang dengar, tertawa cekikikan. Tak lama kemudian terdengar Syaikh menegurku.
"Madza, Nurul Fatihah?", beliau pasang wajah marah tapi tersenyum. Teman-teman semakin tertawa riuh. Duh, Syaikh. Maafkan kekonyolan saya dulu.

7. Usilin Cacak di Ndalem Syaikh

Syaikh Nashir, begitu kami memanggilnya. Kami sangat akrab dengan beliau. Saat sudah STIKK, kami selalu "ngaji Syekh" di rumahnya yang berada di lingkungan pesantren. Setiap Syaikh habis kondangan, kami selalu harap-harap cemas dapat nasi berkatan jatah beliau. wkwk.. Ya, nasi berkatan beliau sering diberikan pada kami anak STIKK. Tak jarang pula, kami diberi roti hasil buatan beliau. Beliau juga sering menyuruh cacak untuk membuatkan kami minuman teh.
Malam itu, kami berniat ngusilin cacak yang bernama Cak Muhsin. Dengan kompaknya, kami jahilin Cak Muhsin. Dengan memakai Bahasa Arab, kami bilang kalau kami haus, kami ingin minum, minum teh, tapi gak mau bikin sendiri, kami ingin minum teh yang dibuatkan Cah Muhsin. Haha..
Dengan raut terpaksa namun tersenyum, akhirnya Cak Muhsin mau juga membuatkan kami minuman teh. Karena kami tahu, kalau sudah Syaikh yang menyuruh, Cak Muhsin tak mampu menolak. hihi

8. Usilin Cacak yang Sedang Kerja

Lagi-lagi, saya memang usil. Saat itu, sekitar jam 2 siang saya disuruh ustadzah untuk jaga kantor. Kebetulan di kantor ada uang palsu/uang mainan. Tiba-tiba ide usil saya muncul. Satu lembar uang mainan seratus ribuan saya masukkan amplop kemudian amplop tersebut saya kasihkan salah satu cacak yang lagi membenahi atap kantor. Ya, kebetulan saya memang kenal dengan cacak itu. Saya hanya bilang ada titipan. Sekian detik cacak itu terlihat antara kaget, senang dan bingung. Dari siapa uang seratus ribu itu. Setelah sadar, cacak itu langsung tertawa sambil bilang, "Awas sampean, Mbak!". haha
Puas sekali saya saat itu karena misi saya berhasil. Duh, ighfirlii dzunuubii.

9. Pernah Mblorot Satu Kali Sejauh 50 Meter

Seusil-usilnya saya, sekonyol-konyolnya saya, saya dulu termasuk santri yang sam'an wa tho'atan pada peraturan pesantren. Pernah satu kali mblorot, itupun mblorot yang tanpa sengaja, tidak lebih dari 50 meter dan bareng-bareng satu kelas.
Jadi ceritanya saat itu ustadzah wali kelas kami tiba-tiba bilang mau boyong. Kami yang lagi labil-labilnya, terbawa suasana dan menangisi kepergian ustadzah kami. Kami menangis mengiringi beliau pulang menuju jalan raya. Dan tanpa sengaja kami telah keluar dari gerbang yang merupakan batas akhir area yang boleh dilewati santri. Setelah itu kami ditegur ustadzah yang lain dan disuruh ke ndalem untuk meminta maaf pada pengasuh.
Gila banget, kan. Kenapa juga saya dulu sampai segitunya. Hehe.. 

10. Pernah Tertidur dan Jatuh Tersungkur di Tengah Forum

Duh, malunya pakai banget kalau yang ini. Jadi waktu itu saya bersama 8 teman yang lain menjadi delegasi Forum Musyawaroh Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'at Kediri. Kami, 9 orang mewakili pesantren kesayangan yaitu Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang - Malang.
Kebayang, kan, ada berapa banyak peserta yang kumpul di sana. Setelah 3 hari di sana, kami sampai di puncak acara yaitu acara penutupan. Kami semua berkumpul dalam satu aula. Karena waktu yang semakin malam, badan juga terasa lelah, saya mengikuti acara dengan menahan kantuk. Saat itu duduk lesehan. Dengan kedua lutut yang saya tekuk ke atas, kedua tangan saya lingkarkan di lutut, kepala saya sandarkan ke lutut, membuatku sedikit nyaman untuk memejamkan mata. Saking enaknya, saya lupa kalau saya masih berada dalam suatu acara. Beberapa menit kemudian saya kehilangan keseimbangan dan oleng. Alhasil, saya jatuh tersungkur ke depan. Saya kaget dan malunya masyaallah. Malu sekali. Mbak Linda, teman satu pesantren saya yang duduk di sebelah saya sontak juga kaget dan bilang, "Eh, Mbak Tika yo'opo se?". Tanpa tolah-toleh ke sana ke mari, tanpa berkomentar apapun, saya langsung bangun dan membenamkan kepala saya di pangkuan mbak Linda. Saya pura-pura tidur sampai acara selesai. Padahal, saya merasa sangat malu luar biasa.

Duh, Guys. Gila banget, kan, saya dulu? Percayalah, masih ada sederet kegilaan saya dulu saat berada di Pesantren namun enggan kutulis di sini, takut yang baca eneg karena kebanyakan.
Semoga tulisan saya yang seperti cuilan rengginang ini bisa menghibur pembaca dan ada manfaatnya, ya, meskipun entah dilihat dari mana sisi manfaatnya. Hehe..


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community sekaligus dalam rangka memenuhi tantangan ibu CEO dan Founder estrilook.com
#day14

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Serba-Serbi Berprofesi Jadi Guru RA, Asli Bikin Baper, Guys!

Foto : Koleksi Pribadi
Assalamu'alaikum, Sahabat Blogger!

Apa, sih, profesi kamu?
Apapun itu, semoga profesi  kita selalu berkah, ya. Jika diawali dengan niat ibadah, insyaallah, seberat apapun profesi kita, akan terasa ringan saat menjalaninya.


Berbicara tentang profesi, sejak tahun 2010 hingga sekarang, alhamdulillah saya masih bertahan memantapkan niat untuk mengabdikan diri saya di dunia pendidikan. Entah ini bisa dibilang profesi atau bukan, yang jelas kegiatan sehari-hari saya adalah mengajar. Tahun 2010 sampai 2013 saya mengajar di sebuah sekolah swasta tingkat SMP, sedangkan mulai tahun 2012 sampai sekarang saya memilih mengabdikan diri saya di sekolah yang fokus pada Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu RA.

Apa, sih, RA itu?

Dears, sepertinya masih banyak sekali  yang belum paham tentang istilah RA. RA merupakan singkatan dari Raudlatul Athfal, sebuah sekolah anak yang berada di bawah naungan Kementrian Agama. RA setara dengan TK. Jika RA di bawah naungan Kementrian Agama, maka untuk TK di bawah naungan Diknas.

Lalu, Apa yang Membuat Saya Bertahan Mengajar di RA?


Foto: pexels.com

Sering sekali saya mendapat pertanyaan dari sahabat ataupun kerabat tentang profesi saya yang menjadi guru RA.

"Duh, kok betah kamu ngajar di TK".

"Saya juga pernah jadi guru TK, tapi cuma sebentar, gak betah, gajinya pun cuma sedikit. Gak cukup buat kebutuhan sehari-hari. Belum lagi masih dituntut untuk kuliah".

"Soro banget jadi guru TK, aku gak kuat".

Ungkapan-ungkapan seperti itu sering sekali terdengar di telinga saya. Bahkan pernah, gak cuma sekali dua kali, ada kenalan yang bertanya,

"Oh, Mbak jadi guru? Di mana? RA? Apa itu RA? Oh, kayak TK?".

Dan dari rautnya saja, saya sedikit bisa menyimpulkan bahwa itu sebuah ungkapan  meremehkan. 
'Oh, hanya guru TK toh'
Mungkin seperti itu. Itu hanya asumsiku saja, ya, Dears. Haha

Dalam menanggapinya, kadang saya hanya tersenyum saja.

'Ah, biarkan saja'

Namun, tak jarang juga saya menjawab jika itu sudah sangat di luar batas. wkwk

Menjadi guru RA/TK memang susah-susah gampang. Gampangnya, memang kita tak perlu mengajarkan rumus-rumus ruwet pada anak-anak. Cukup mengenalkan angka dan huruf sampai anak-anak lancar berhitung dan membaca. Mungkin ini yang membuat sebagian orang meremehkan profesi guru RA/TK dan berpikir bahwa menjadi guru RA/TK itu sangat mudah. Ibaratnya, anak lulus SD/SMP aja bisa ngajar RA/TK. Namun, bukan berarti guru RA/TK itu tidak bisa rumus-rumus matematika, ya. Bukan berarti tidak mampu pelajaran fisika, kimia, kan, ya? Bener, kan? Hehe
Bahkan, teman ngajar satu sekolah saya ada yang bergelar Sarjana Sains dan pernah ditawari menjadi dosen salah satu kampus besar negeri di Malang, namun bagaimana? Iya, beliau memilih menjadi guru RA. Mengapa? Jawabannya tidak jauh beda dengan saya.
Dunia anak kecil sungguh dunia yang indah. Senyum mereka tulus, tawa mereka tulus, pujian bahkan kritikan dari mereka itu jujur. Sekali lagi, dunia anak kecil itu indah. Mereka adalah pelajaran berharga bagi saya. Mereka merupakan sumber belajar saya untuk berusaha menjadi orang tua yang baik buat anak-anak saya sendiri.

Bersama anak-anak, saya jadi lebih tahu bagaimana harusnya saya menjadi orang tua. Bersama mereka, saya tahu kapan waktunya bersikap tegas, kapan waktunya santai. Bersama mereka, saya menjadi lebih mengerti, bagaimana cara memberi pujian yang positif, cara memberi reward yang mendidik dan sebagainya. Saya jadi sedikit lebih tahu, cara mengenali anak berkebutuhan khusus dan bagaimana cara menanganinya. Saya menjadi lebih memahami, bahwa setiap anak adalah bintang. Setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Tak perlu diperbandingkan, tak perlu dikucilkan. Saya juga menjadi lebih paham, bahwa tidak ada anak yang bodoh. Dan setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk memahami lingkungan sekitarnya. Mereka tidak bisa disamakan.

Begitulah, banyak sekali pelajaran berharga yang telah saya peroleh selama menjadi guru RA yang membuat saya tetap bertahan sampai sekarang. Tentunya, tidak hanya pelajaran menjadi orang tua yang baik yang telah saya dapatkan, namun keberkahan dari ilmu yang saya amalkan, Allah telah menggantinya dengan beribu nikmat yang tak ternilai dengan uang.

Sedikit tulisan dari saya ini, semoga bisa bermanfaat buat para pembaca. Bisa menambah semangat buat para guru di luar sana, khususnya guru RA. Tetapkan niat ibadah, mengamalkan ilmu, ikhlaskan hati. Semoga barokah. Salam IGRA. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama estrilook community
#day11

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

3 Hal Penting yang Perlu Kamu Perhatikan Saat Membuat Surat Lamaran Pekerjaan, No. 2 Wajib Banget, Dears!

Foto : Pexels.com

Hi, Dears!
Mungkin ada sebagian di antara kita yang hampir putus asa karena mencari pekerjaan yang tak kunjung didapat. Beberapa lembar Surat Lamaran dan CV telah kita layangkan ke beberapa kantor perusahaan, namun nyatanya belum juga dapat panggilan. Di sisi lain, melihat teman-teman kita yang setiap pagi berangkat kerja dengan memakai seragamnya, sungguh membuat hati iri. Belum lagi ditambah dengan nyinyiran dari tetangga yang acap kali mengganggu.
"Sudah sekolah tinggi-tinggi, habisin banyak duit orang tua, ujung-ujungnya juga pengangguran"
"Apa gak bosan di rumah terus? Ijazahnya buat apa?"

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar, dikira kita cuma duduk manis, berdiam diri di rumah, tanpa ada usaha. Padahal, kita sudah susah payah keluar masuk beberapa perusahaan untuk mencari pekerjaan. Sedih, capek, stress, galau, merasa gak berharga dan putus asa. Apa sih, yang kurang dari kita? Apa sih, yang salah dari lamaran yang kita kirimkan?

Sore tadi, ada customer yang datang ke toko saya untuk minta diprintkan Surat Lamaran Pekerjaan dan Daftar Riwayat Hidup. Jelas sekali kalau berkas itu akan digunakan untuk melamar suatu pekerjaan. Namun, ketika filenya saya buka, masih banyak sekali tulisan dan tanda baca yang masih perlu untuk dibenarkan. Selanjutnya saya membantu mengedit ulang tulisan yang sudah siap print tersebut. Kejadian seperti ini tidak hanya sekali dua kali, sehingga saya tergerak untuk membuat tulisan ini.

Membuat Surat Lamaran Pekerjaan mungkin memang terasa sangatlah gampang bagi sebagian orang. Namun, tidak sedikit pula yang merasa kesulitan saat disuruh membuat Surat Lamaran. Memang, membuat Surat Lamaran Pekerjaan itu susah-susah gampang. Tidak asal copy paste untuk kemudian langsung kita print. Ada beberapa hal yang sangat perlu untuk kita perhatikan saat membuat Surat Lamaran Pekerjaan. Adapun hal-hal penting tersebut antara lain :

1. Usahakan Memakai Tulisan Tangan Sendiri

Untuk saat ini, menulis Surat Lamaran menggunakan tulisan tangan memang tidak diwajibkan. Seiring dengan perkembangan teknologi, diperbolehkan membuat Surat Lamaran Pekerjaan menggunakan tulisan dari komputer meskipun ada beberapa perusahaan yang masih mewajibkan menggunakan tulisan tangan. Kalau menurut saya, langkah lebih utamanya jika Surat lamaran Pekerjaan ditulis dengan menggunakan tulisan tangan. Hal ini dikarenakan tulisan tangan bisa menunjukkan karakter seseorang. Sehingga tulisan tangan ini bisa dijadikan bahan pertimbangan seseorang untuk diterima atau tidaknya.

2. Gunakan Tulisan yang Sesuai dengan EYD

Berbicara tentang EYD, EYD meruapakan singkatan dari Ejaan Yang Disempurnakan. EYD ini merupakan patokan saat kita mau membuat tulisan yang baik dan benar, seperti pemakaian huruf besar (kapital) dan pemakaian tanda baca. Untuk itu, haram hukumnya mengabaikan point satu ini jika kita mau membuat Surat Lamaran Pekerjaan mengingat Surat Lamaran itu termasuk salah satu berkas resmi bagi sebuah lembaga. Tulisan yang sesuai dengan EYD menunjukkan kemampuan dan pengetahuan seseorang yang telah menulisnya. Untuk itu, jangan sampai diabaikan, ya, Dears!

3. Berikan Informasi dan Data yang Sebenarnya 

Memberikan informasi dan data yang sebenarnya juga merupakan point mutlak saat membuat Surat Lamaran Pekerjaan. Jangan sampai kita salah atau bahkan memanipulasi data yang kita berikan. Berikan data/lampiran berkas yang memang benar-benar milik kita.
 Seperti no. telepon, alamat rumah, ijazah terakhir dan lain-lain.

Semoga bermanfaat, Dears.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts