In Sharing

Serba-Serbi Berprofesi Jadi Guru RA, Asli Bikin Baper, Guys!

Foto : Koleksi Pribadi
Assalamu'alaikum, Sahabat Blogger!

Apa, sih, profesi kamu?
Apapun itu, semoga profesi  kita selalu berkah, ya. Jika diawali dengan niat ibadah, insyaallah, seberat apapun profesi kita, akan terasa ringan saat menjalaninya.


Berbicara tentang profesi, sejak tahun 2010 hingga sekarang, alhamdulillah saya masih bertahan memantapkan niat untuk mengabdikan diri saya di dunia pendidikan. Entah ini bisa dibilang profesi atau bukan, yang jelas kegiatan sehari-hari saya adalah mengajar. Tahun 2010 sampai 2013 saya mengajar di sebuah sekolah swasta tingkat SMP, sedangkan mulai tahun 2012 sampai sekarang saya memilih mengabdikan diri saya di sekolah yang fokus pada Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu RA.

Apa, sih, RA itu?

Dears, sepertinya masih banyak sekali  yang belum paham tentang istilah RA. RA merupakan singkatan dari Raudlatul Athfal, sebuah sekolah anak yang berada di bawah naungan Kementrian Agama. RA setara dengan TK. Jika RA di bawah naungan Kementrian Agama, maka untuk TK di bawah naungan Diknas.

Lalu, Apa yang Membuat Saya Bertahan Mengajar di RA?


Foto: pexels.com

Sering sekali saya mendapat pertanyaan dari sahabat ataupun kerabat tentang profesi saya yang menjadi guru RA.

"Duh, kok betah kamu ngajar di TK".

"Saya juga pernah jadi guru TK, tapi cuma sebentar, gak betah, gajinya pun cuma sedikit. Gak cukup buat kebutuhan sehari-hari. Belum lagi masih dituntut untuk kuliah".

"Soro banget jadi guru TK, aku gak kuat".

Ungkapan-ungkapan seperti itu sering sekali terdengar di telinga saya. Bahkan pernah, gak cuma sekali dua kali, ada kenalan yang bertanya,

"Oh, Mbak jadi guru? Di mana? RA? Apa itu RA? Oh, kayak TK?".

Dan dari rautnya saja, saya sedikit bisa menyimpulkan bahwa itu sebuah ungkapan  meremehkan. 
'Oh, hanya guru TK toh'
Mungkin seperti itu. Itu hanya asumsiku saja, ya, Dears. Haha

Dalam menanggapinya, kadang saya hanya tersenyum saja.

'Ah, biarkan saja'

Namun, tak jarang juga saya menjawab jika itu sudah sangat di luar batas. wkwk

Menjadi guru RA/TK memang susah-susah gampang. Gampangnya, memang kita tak perlu mengajarkan rumus-rumus ruwet pada anak-anak. Cukup mengenalkan angka dan huruf sampai anak-anak lancar berhitung dan membaca. Mungkin ini yang membuat sebagian orang meremehkan profesi guru RA/TK dan berpikir bahwa menjadi guru RA/TK itu sangat mudah. Ibaratnya, anak lulus SD/SMP aja bisa ngajar RA/TK. Namun, bukan berarti guru RA/TK itu tidak bisa rumus-rumus matematika, ya. Bukan berarti tidak mampu pelajaran fisika, kimia, kan, ya? Bener, kan? Hehe
Bahkan, teman ngajar satu sekolah saya ada yang bergelar Sarjana Sains dan pernah ditawari menjadi dosen salah satu kampus besar negeri di Malang, namun bagaimana? Iya, beliau memilih menjadi guru RA. Mengapa? Jawabannya tidak jauh beda dengan saya.
Dunia anak kecil sungguh dunia yang indah. Senyum mereka tulus, tawa mereka tulus, pujian bahkan kritikan dari mereka itu jujur. Sekali lagi, dunia anak kecil itu indah. Mereka adalah pelajaran berharga bagi saya. Mereka merupakan sumber belajar saya untuk berusaha menjadi orang tua yang baik buat anak-anak saya sendiri.

Bersama anak-anak, saya jadi lebih tahu bagaimana harusnya saya menjadi orang tua. Bersama mereka, saya tahu kapan waktunya bersikap tegas, kapan waktunya santai. Bersama mereka, saya menjadi lebih mengerti, bagaimana cara memberi pujian yang positif, cara memberi reward yang mendidik dan sebagainya. Saya jadi sedikit lebih tahu, cara mengenali anak berkebutuhan khusus dan bagaimana cara menanganinya. Saya menjadi lebih memahami, bahwa setiap anak adalah bintang. Setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Tak perlu diperbandingkan, tak perlu dikucilkan. Saya juga menjadi lebih paham, bahwa tidak ada anak yang bodoh. Dan setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk memahami lingkungan sekitarnya. Mereka tidak bisa disamakan.

Begitulah, banyak sekali pelajaran berharga yang telah saya peroleh selama menjadi guru RA yang membuat saya tetap bertahan sampai sekarang. Tentunya, tidak hanya pelajaran menjadi orang tua yang baik yang telah saya dapatkan, namun keberkahan dari ilmu yang saya amalkan, Allah telah menggantinya dengan beribu nikmat yang tak ternilai dengan uang.

Sedikit tulisan dari saya ini, semoga bisa bermanfaat buat para pembaca. Bisa menambah semangat buat para guru di luar sana, khususnya guru RA. Tetapkan niat ibadah, mengamalkan ilmu, ikhlaskan hati. Semoga barokah. Salam IGRA. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama estrilook community
#day11

Related Articles

2 komentar:

  1. Mbaaa
    Emng siapa yg meremehin
    Gemesss
    Aku pernah ngajar paud tk ad smp sma
    Yg paling munet ngajar paud n tk
    Tp seruuu bgt emng
    Masih inget oas aku resign murid2ku nangis hikss

    BalasHapus
  2. Ada laah Mbaak... hihi
    Gemesnya pengen diapain, Mbak? wkwk

    Terima kasih sudah mampir, ya, Mbaak...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts