In Sharing

3 Kepercayaan Selama di Pesantren Ini Bakal Bikin Kamu Ketawa Ngakak. Kepoin, Yuk!

Foto : Pexels.com

Hai... Hai...
Sharing, yuk!
Dulu sewaktu kalian ada di pondok, ada gak, sih, kepercayaan-kepercayaan yang lumayan trending, namun sepertinya aneh gitu? Gak masuk akal banget, tapi sukses bikin para santri hampir percaya dibuatnya.

Eits, tapi bukan kepercayaan yang horor-horor gitu, yess. Jadi yang aku maksud di sini semacam anggapan-anggapan, yang entah siapa dulu pencetusnya, gak tau bener enggaknya, gak masuk akal banget, tapi entah gimana awalnya mengalir gitu aja menjadi sebuah opini. * Haiiss... Ngemeng apah aku ini. Haha
Yah, kurang lebih seperti itu lah, Gaes...

Jadi, dulu sewaktu aku di pondok, ada beberapa anggapan yang dianut para santri, kemudian disebarkan dari mulut satu ke mulut yang lain. Apa aja, sih emang?
Kepoin, yuk! (itung-itung sambil bernostalgia jaman-jaman mondok lah, ya).


1. Anggapan bahwa, "Jika kamu mau ikutan haidh juga, mau datang bulan juga, minta injekin aja jempol kakimu pada temanmu yang lagi haidh, sambil bacain sholawat tiga kali"

Hahaha... Lucu banget, kan? Konyol bingit toh? Apa emang iya, bisa nyetrum gitu? Bisa ikutan haidh juga? Wkwk
Aku sendiri juga gak tau lah. Gak pernah denger dalil ilmiahnya jugak si. But, itulah isu yang beredar.
Saat sudah masuk waktunya datang bulan, namun belum datang jugak itu tamu, kami para santri putri biasanya minta injekin aja ke teman yang lagi haidh juga. Itu jempol kaki, diinjekin sama jempol kaki temen yang lali haidh, dibacain sholawat tiga kali, habis itu harap-harap cemas nungguin tamu itu datang. Wekekek
Daan...7 dari 10 santri putri membuktikan, gak sampai satu atau dua hari setelahnya, mereka beneran haidh, datang itu tamu. Wew, enak kan?
Mayan laah...itung-itung dapat diskonan gak ikut jama'ah shalat yang diwajibkan bagi kami. Selain itu, jam tidur malam kami pun otomatis bisa nambah, meskipun cuma 5 sampai 10 menit doang, sih. Haha

2. Anggapan bahwa, "Anak pondok yang suka pete itu otomatis anaknya cantik-cantik"

Untuk yang kali ini malah lebih konyol lagi, kan?
Emang iya, yang doyan pete itu hanya yang cantik-cantik doang?
Yang gak mau pete, berarti gak cantik, dong? Wkwk

Au aah, yang jelas itu dulu juga sempet tranding di jaman saya mondok. Bahkan, saking manjurnya gosip itu, ada adik kelas aku yang rela banget buat maksain suka pete, padahal sebelumnya dia gak mau sama sekali, hanya demi ngikutin idolanya (mbak-mbak senior), yang emang pas doyan pete juga. Haha
Emang aneh, emang gak masuk akal banget, emang konyol banget. Tapi begitulah kami dulu, dan itu yang bikin kami merindukan masa-masa mondok yang seperti dulu.

3. Anggapan bahwa "Gatelen/Gudiken itu laksana stempel, kalau kamu mondok, belum pernah gudiken, itu berarti ilmu kamu belum masuk"

Kikikikikk...
Untuk yang kali ini agak bener, bener atau bener banget, Gaes? Wkwk
Yang dulu pernah nyantri, tapi gak pernah gatelen sama sekali ada gak? Atau mungkin ada yang pernah sakit mata?
Yaps, untuk yang point ini saya yakin sekali kalau kalian yang pernah mondok, pasti pernah laah yang namanya ngerasain gatal-gatal atau bisa jadi ngerasain sakit mata. Mengapa? Karena itu laksana stempel. wkwk
Kalau menurut saya sih itu karena ujian awal kita saat memantapkan niat untuk mondok.
Kuat gak dikasih ujian ini?
Kuat gak buat gak ngeluh?
Kuat gak buat gak boyong dari pondok dan tetap bertahan untuk nyantri?

Kenapa musti ada hal-hal mengerikan seperti itu?
Yess, jawabannya sungguh simple. Karena mondok itu mulia. Karena nyantri itu butuh tirakat. Karena hasil dari nyantri itu tak terkira. Tak terhitumg jumlahnya.

Sungguh, bersyukurlah kalian yang dulu ataupun sekarang kalian itu pernah nyantri, pernah mondok, karena nyantri itu mulia. Pengalaman di luar bisa kau dapatkan di dalam pondok, namun pengalaman di pondok tak mungkin bisa kau dapatkan di luar. Setuju, Gaes?


Terima kasih. Syukron Lakum, bagi pembaca setia www.nurulfatikah.com
Semoga tulisan-tulisan yang masih acakadul ini selalu bisa menebar manfaat, bisa mendatangkan semangat bagi para santri dan calon santri di manapun kalian berada.


Salam,
Blogger An-Nur

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Mengingat Kembali 3 Dhawuhnya Romo Kyai Qusyairi, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" yang Penuh dengan Kearifan


Assalaamu'alaikum, Sahabat Blogger Nusantara!

Kali ini saya akan sharing sedikit tentang sosok kyai sepuh di kabupaten Malang, yaitu K.H. A. Qusyairi Anwar. Mungkin ada beberapa di antara Sahabat yang belum begitu paham siapa beliau, namun bagi Sahabat yang hidup di kalangan pesantren, khususnya di kabupaten Malang, tentu sosok Romo Kyai Qusyairi sudah tidak asing lagi untuk didengar. Ya.. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang-Malang.

Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" terletak di Jl. Diponegoro No. IV Bululawang, sebelah selatan Pasar Bululawang. Tempatnya yang strategis dan dekat dengan jalan raya memudahkan bagi siapapun yang ingin berkunjung dan mengenal lebih dalam dengan Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Nama "Murah Banyu" yang tergolong unik tentu menjadi magnet tersendiri untuk mudah diingat bagi siapapun yang mendengar.

Kembali pada sosok Kyai Qusyairi, beliau kyai yang sangat ramah kepada siapapun. Beliau juga sosok kyai yang "ngajangi jembar" kepada seluruh santrinya untuk belajar dan mengembangkan bakatnya sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan dihadirkannya tim jurnalistik dari media terkenal untuk membimbing para santri yang berminat di bidang literasi. Tak hanya tim jurnalistik, kyai juga menghadirkan beberapa novelis untuk membangkitkan semangat para santri yang ingin menjadi penulis novel. Beliau juga menghadirkan penjahit profesional untuk membimbing santri yang suka akan dunia tata busana. Beliau menghadirkan guru kaligrafi untuk santri-santri yang suka di dunia seni. Bahkan masih teringat dengan jelas di ingatan saya, untuk mengisi liburan sekolah yang hanya satu minggu, saat itu kyai menghadirkan cheff terkenal untuk membekali dunia tata boga para santri.
Ah, rasanya tidak cukup kata-kata ini untuk menuliskan betapa banyak yang telah kyai berikan untuk kami para santri. Di samping itu, sosok kyai Qusyairi membuktikan bahwa di dalam dunia pesantren, santri tidak melulu diajak ngaji dan maknai kitab kuning. Namun, kyai mengajak para santri untuk lebih bisa mempersiapkan diri, bagaimana cara untuk menghadapi masa depan seiring dengan perkembangan zaman. Selain pintar ngaji, pintar baca kitab kuning, arif dalam ilmu agama, namun santri juga diharapkan cakap akan ilmu-ilmu teknologi.

Begitu jelas di ingatan saya, kyai Qusyairi nimbali semua santri putrinya dengan sebutan "wong ayu". Tak peduli dia putri pejabat, dia anak orang kaya ataupun dia anak orang biasa, semua dipanggil dengan "wong ayu". 
Kyai yang setiap pagi saat santrinya sedang ro'an, beliau keliling dengan sepeda pancalnya yang berwarna biru. Kyai yang di setiap kesempatannya, saat dini hari sebelum shubuh, kerap kali terlihat berkeliling pondok untuk melihat santri yang bangun untuk sholat tahajud.

Saat ngaji pagi, kami para santri biasa menyebutnya "Ngaji Yai", selalu ada pesan-pesan singkat yang kyai dhawuhkan pada kami. Ngaji Yai memang tidak sampai lama, mungkin hanya 15-30 menit saja. Dhawuh-dhawuhnya yang terkesan santai dan pendek, namun begitu berbobot dan selalu terpatri dalam ingatan saya. Adapun dhawuh-dhawuh beliau yang sampai saat ini selalu teringat dalam diri saya, antara lain :

1. Barokah itu Laksana Angin, Tak Bisa Dilihat Namun Bisa Dirasakan

Begitulah kira-kira dhawuhnya kyai, bahwa barokah itu seperti angin, keberadaannya tidak bisa kita lihat namun bisa kita rasakan.
Itulah mengapa, kerap kali kita lihat, banyak santri yang berlomba-lomba mencari barokah. Kami para santri percaya, jalan untuk mencari barokah itu banyak sekali. Ada yang berlomba menata sandal/sepatu ustadz/ustadzahnya, ada yang berebut salim dan mencium dengan ta'dhim tangan kyai/ibu nyai, barokahnya berjuang, barokahnya ngabdi di pondok, barokahnya mengamalkan ilmu dan masih banyak lagi barokah-barokah lain yang selalu kami kejar.

2. Santri iku Ojo'o Ditandur, Dibuak ae Cukul

Santri itu jangankan ditanam, dibuang aja pasti tumbuh. Begitulah kira-kira maksud dhawuhnya kai. Kyai berharap, dengan segala ilmu dan pengalaman yang telah santri dapatkan selama di pesantren, seorang santri bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain ketika nanti hidup dalam masyarakat. Saat diminta menjadi imam sholat, siap. Saat diminta menjadi pembawa acara, bisa. Saat disuruh berpidato, berangkat. Itulah santri menurut kyai Qusyairi, "ojo'o ditandur, dibuak ae cukul". Aamiin, Yai... Semoga kami bisa memenuhi harapan Panjenengan.

3. 'Isy Kariiman Au Mut Syahiidan 

Sebuah hadits yang seringkali beliau dhawuhkan berulang-ulang. "Hiduplah dengan mulia atau mati dalam keadaan mati syahid". 

Bismillah. Ridhoi perjalanan kami, Yai.. Ridhoi perjuangan kami. Semoga di mana pun kami berpijak, kami bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar. Kami bisa menjunjung tinggi nama baik pesantren kami, Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Terakhir, akui kami sebagai santrimu, Yai.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk rasa cinta saya kepada pesantren, sebagai bentuk cinta dan ta'dhim saya kepada Panjenengan, Yai..
Dan untuk teman-teman seluruh santri alumni PP. An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang, sempatkan, luangkan untuk hadir di acara besar kita, acara bersama kita, Reuni Akbar tanggal 10 Maret 2019. Akan ada banyak kejutan yang telah panitia siapkan untuk teman-teman tercinta.


Salam Iksamba

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Baper Gegara Media Sosial? Ketemu Mantan atau Mungkin Teman Dekat? Boleh, Asal Jangan Sampai Baper Berkelanjutan!

 
Foto : Pexels.com

Hai... Hai... Sahabat Blogger semua!

Zaman modern seperti sekarang ini, hampir semua orang memiliki sebuah benda yang bernama android. Mulai dari kalangan remaja sampai orang tua. Mulai dari kalangan orang biasa saja, sampai orang berada. Hampir semuanya mempunyai android.

Android merupakan sosok benda kecil yang sepertinya sudah menjelma seperti jimat saja. Iya, karena benda kecil satu ini ke mana-mana selalu dibawa. Di manapun dan kapanpun selalu dikantongi. Iya, gak, sih, Guys?
Saat kamu bersantai, saat kamu bepergian, saat kamu ke tempat kerja  bahkan saat kamu ke kamar mandi pun benda kecil ini ngikut aja *pengalaman juga, sih. wkwk
Begitulah, smartphone memang sudah menjadi benda yang wajib banget dibawa ke manapun.

Android vs Media Sosial

Nah, berbicara tentang android, tentu erat kaitannya dengan istilah media sosial, entah itu facebook, whatsapp, instagram, twitter dan yang lainnya. Hampir semua orang yang memiliki smartphone, kemungkinan besar memiliki akun media sosial. 
Tak seperti dulu, media sosial yang dulunya hanya diramaikan oleh kalangan anak muda, kini telah menjalar ke semua lapisan generasi. Banyak sekali emak-emak hits, bapak-bapak yang tak kalah nge-hits sering bermunculan di beranda. Iya, gak? hehe
Lagi masak, jepret, lanjut post. Lagi ngopi, jepret, lanjut post. Jalan-jalan, piknik, belanja, makan, apapun itu, jepret, lanjut post. 
Tidak bisa dipungkiri lagi, memang kita sekarang berada di zaman millenial. Semuanya berkaitan erat dengan dunia maya.

Ketika Media Sosial Menjadi Hiburan yang Menyenangkan

Memang wajib kita akui, bahwa dengan munculnya media sosial mendatangkan hiburan tersendiri bagi kita. Berkat jejaring sosial ini, saudara yang tinggal jauh dan tidak pernah bertemu, kini bisa kembali berkumpul dan bertegur sapa setiap hari. Persahabatan yang dulunya sempat terputus, kini kembali terjalin. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mantan yang sudah terlupakan, kini kembali bertemu dan kembali saling menyapa melalui dunia maya. Eaaakk... *eh
Memang tidak ada yang salah dengan ini semua. Zaman sekarang kalau kita tidak mengikuti perkembangan zaman, nanti kita dikatai kudet-lah, katrok-lah atau apalah itu.

Ketika Virus "Baper" Mulai Melanda

Bahagia, senang atau semacamnya. Mungkin itu yang dirasakan sebagian orang yang tidak sengaja bertemu mantan atau teman lama. Berawal dari saling add pertemanan dan konfirmasi, atau mungkin berawal dari tergabungnya dalam satu group whatsapp. Lanjut bertegur sapa, saling berbalas komentar di postingannya, stalking foto-foto di media sosial "dia", hingga tak sedikit dari mereka yang lanjut berbalas pesan di jaringan pribadi.

Berdalih ini wajar, hanya menyambung sillaturrahim saja, hanya menjaga persahabatan saja, hanya hiburan saja. Begitulah. Hingga lama-lama pertemanan yang kembali terjalin itu terasa nyaman dan bagai candu. 
Mulai mencari-cari postingan dia. Senyum-senyum sendiri saat chatting dengan dia. Saling curhat. Saling berbagi keluh kesah. Semakin sering stalk akun dia. Dan mulai terpikir, "Mengapa aku dulu tidak sama dia saja?".
Lanjut mulai membandingkan antara dia dan pasangan sah kita. Mulai membayangkan jika saja bersama dia.
Pesan-pesan teks langsung dihapus, takut dibaca suami/istri kita.

Hai... Hai... Sadar, Guys!
Kalau sudah sampai di tahap ini, segera sadarkan diri kamu! Stop it! Pliiiss...
Hentikan sekarang juga, Dears!
Persahabatan yang seperti ini sudah bukan persahabatan yang sehat lagi. Tak perlu menjalin pertemanan yang seperti ini.
Kalau ada yang bilang rumput tetangga itu lebih hijau, jangan percaya, Guys!
Karena kadang ada yang malah layu. hihi

Selain itu, akan ada hati yang terluka. Akan ada banyak pihak yang dikecewakan.
Ingat anak-anak!
Ingat pasangan!
Ingat keluarga besar!

Apa yang Menjadi Milikmu Sekarang, Percayalah itu Takdir Terbaik dari Allah 

Tak usah membandingkan dia dan pasangan sah kita. Pasangan sah kita sudah pasti jodoh terbaik yang Allah siapkan. Kalaupun dulu kamu bersama dia, hidupmu belum tentu sebaik sekarang. Belum tentu se-bahagia seperti sekarang.
Yuk, ah, mari kita gunakan media sosial secara positif. Baper sebentar boleh, asal jangan sampai baper yang berkelanjutan, ya, Guys!

Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas kalimat yang kurang berkenan. Terima kasih sudah berkunjung.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih banyak pada "sahabat fillaah" saya yang telah menginspirasi saya untuk menulis ini. Terima kasih telah memberikan izin untuk saya tulis. Panjenengan hebat karena telah berhasil mengatasi 'kebaperan' yang sempat menyerang. Semoga selalu sakinah bersama pasangan dan keluarga Panjenengan.

Tulisan ini juga sebagai cambuk pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga keluarga kita semuanya senantiasa sakinah, mawaddah wa rohmah, Dears.

Salam,

Bunda Nadhifa

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Sharing

Kamu Termasuk Blogger yang Mau Move On dari "Malas Nulis"? Kuy, Ikuti Program "SETIP with Estrilook"!

Hai... Hai...
Adakah di sini yang bernasib sama seperti saya?

Yess. Saya, emak-emak yang punya baby balita, setiap harinya kerja di luar, namun memiliki cita-cita besar. Berharap banget bisa menjadi blogger profesional, yang setiap harinya istiqomah nulis hal yang bermanfaat di blog pribadi. Namun, sepertinya hal itu hanya sebatas cita-cita dan harapan. Karena pada kenyataannya, saya masih belum bisa disiplin dan ajeg. Saya nulis hanya ketika saya mau, atau kalau gak gitu, saya nulis hanya ketika saya lagi dikejar-kejar deadline tertentu.

Tak jarang, hati kecil saya selalu menyalahkan diri saya sendiri, kenapa saya belum juga bisa rutin menulis, namun saya selalu berkilah dengan berbagai bentuk MKPD (Mekanisme Pertahanan Diri alias banyak alasan), alasan masih banyak kesibukan penting lainnya lah, capek lah, lagi gak mood lah. Ada gak, sih, yang kayak saya gini?

Padahal, nih, ya, kalau dipikir-pikir, bukankah mereka para blogger profesional juga sama-sama memiliki kesibukan?
Bukankah setiap orang juga memiliki kepentingan yang gak sedikit?
Mereka juga bisa merasakan capek. Ada kalanya mereka juga bisa jenuh dan malas.
Namun, mengapa mereka bisa melawan itu semua, sedangkan kita tidak?

Iya, gak, sih?

Saya yakin, kita semua, para blogger yang lagi diserang rasa malas, pasti memiliki tekad yang kuat untuk segera bisa move on dari "Malas Nulis". Iya, kan?
Nah, saya ada info bagus dan penting banget, nih. Ada program yang namanya "SETIP with Estrilook". 
Apa itu? Seminggu Tiga Postingan bersama estrilook. Jadi, kita para blogger diajak untuk belajar istiqomah nulis. Satu minggu cukup tiga kali postingan saja. Nah, kan. Sepertinya ringan, ya? Yang berat itu, istiqomahnya. Semoga bisa, ya.

Sebelum saya jelaskan tentang syarat-syarat SETIP, apakah teman-teman di sini sudah mengenal apa itu estrilook?

www.estrilook.com merupakan sebuah situs website inspirasi wanita Indonesia yang CEO dan Foundernya tak lain adalah teman saya sendiri semasa di Pesantren dulu, Muyassaroh, pemilik blog www.muyass.com
Informasi lebih lengkap tentang estrilook bisa diakses melalui https://estrilook.com/, ya.

Selanjutnya, bagi teman-teman yang mau ikutan program SETIP with estrilook, syaratnya mudah kok.

Syarat SETIP :

1. Share tentang SETIP di Social Media kamu yaitu IG, FB, Twitter atau media social lainnya yang kamu punya. Jika hanya punya salah satu tak apa, yang penting posting mengenai SETIP supaya lebih banyak orang yang bisa ikutan.

2. Share gambar SETIP serta syaratnya dan mention juga minimal 2 teman kamu yang belum bergabung di Grup FB Estrilook.

3. Follow akun Estrilook Community di Instagram. Like Fanpage Estrilook dan bergabung di Grup FB Estrilook Community
https://www.facebook.com/groups/234318230607581/?ref=br_tf&epa=SEARCH_BOX

4. Posting mengenai SETIP di blog kamu dan alasan kenapa kamu mau ikut SETIP. Jangan lupa sertakan juga link estrilook.com di postinganmu,  ya.

5. Konsisten untuk ikut SETIP dan tak mundur di tengah jalan.

6. Jika ada yang tertinggal dalam event SETIP ini, boleh merapelnya.

7. Akan diberikan waktu hanya satu minggu ketika event SETIP selesai untuk mengejar ketertinggalan.

8. SETIP akan berlangsung selama 3 bulan, mulai Februari hingga April 2019. Tetap amanah dan tak banyak alasan ketika mengikuti event ini.

9. Jangan lupa setor link postingan kamu di grup FB Estrilook Community pada postingan yang telah disediakan oleh admin.

10. Postingan di blog masing-masing dan disetorkan setiap hari Senin,  Rabu,  dan Jumat. 


Kuy, semangat ngisi blog kita!
Semoga setiap rangkaian kata yang kita tulis bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Aamiin.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Sharing

Siapa Tahu, Hal Kecil Ini Bisa Menjadi Perantara Barokahnya Rezekimu dan Sakinahnya Keluargamu!

Foto : Pexels.com
Assalamu'alaikum, Sahabat Blogger!

Bisa berbagi kepada sesama tentu impian bagi semua orang. Saling memberi dan saling membantu sungguh sesuatu yang indah. Saat melihat orang lain tersenyum bahagia karena bantuan yang telah kita berikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri pada hati kita. Bukan karena kita telah membuat orang lain merasa berhutang budi, namun ada rasa bahagia dan syukur pada diri kita karena telah bisa berbagi di saat orang lain sedang membutuhkan. Biidznillah tentunya.

Memang, berbagi dan membantu itu tak hanya tentang uang ataupun materi. Berbagi bisa berupa tenaga, pikiran ataupun bentuk jasa lainnya. Namun, meskipun begitu, berbagi atau sedekah sepertinya identik dengan uang atau materi dalam pandangan kita. Sehingga ada beberapa orang yang beranggapan bahwa berbagi atau sedekah itu "sedikit berat" untuk dilakukan. Dengan alasan belum ada uang lebih, ada juga yang beralasan masih memiliki kebutuhan yang banyak dan masih ada banyak lagi sederetan alasan yang bisa membuat kita menunda sedekah. Padahal, istilah sedekah tidak bisa kita artikan sesempit itu.

Nah, kali ini saya akan membahas sedikit tentang hal sepele, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita, namun, siapa tahu hal ini bisa menjadi perantara barokahnya rezeki serta sakinahnya keluarga kita.

Usahakan, Tak Usah Menawar Saat Kita Membeli  Sesuatu pada Pedagang Kecil!

Dears, pernah suatu ketika saat saya hendak membeli ikan mujaer di pasar, di sebelah saya ada seorang ibu yang sedang tawar-menawar harga mujaer, Rp. 26.000,- kalau gak salah.
'Wajar', pikir saya saat itu.
Saya pun menunggu antrian. Setelah agak lama, sepertinya suasananya terasa sedikit memanas karena mereka sempat eyel-eyelan uang seribu rupiah, akhirnya ibu penjual itu mengalah dengan menurunkan seribu rupiah sehingga menjadi Rp. 25.000,-.

Saya pun masih menyimak. Ternyata ibu pembeli itu hanya membeli setengah kilo, itu artinya, dari tadi beliau memperjuangkan uang lima ratus rupiah. Masyaallah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, setelah beliau menerima ikan mujaer yang telah ditimbang, ibu itu hanya menyerahkan uang Rp. 12.000,- ke tangan ibu penjual dan bergegas pergi tanpa ngomong apa-apa. Ibu penjual pun hanya melongo dan memilih untuk mengalah, meskipun sambil menggerutu.

Menyaksikannya, saya seolah antara kepingin tertawa dan menangis. Astaghfirullah. Padahal jelas sekali, di dalam dompet ibu pembeli tadi masih ada uang lebih. Tapi kenapa ibu pembeli tadi sampai setega itu?

Dears, marilah kita tata kembali pola pikir kita!
Saat kita membeli pada pedagang kecil, selama harga yang mereka kasih masih dalam batas wajar, selama uang kita masih cukup, kenapa tidak langsung kita iyakan saja?




Mereka para pedagang kecil, dalam mematok harga tentunya sudah selayaknya harga pasar. Andaikan lebih mahal pun, tak mungkin berbeda terlalu jauh. Dalam mencari keuntunganjuga tak mungkin terlalu banyak. Benar, bukan?


Banyak kita jumpai di pasar-pasar kecil, di pinggiran jalan, banyak sekali pedagang yang sudah tua renta, badannya sudah ringkih dan lemah, tidak sedikit pula di antara mereka yang tuna netra, namun mereka lebih memilih berjualan demi sesuap nasi daripada harus meminta-minta. Lalu, masih tega kah kita untuk menawarnya demi turunnya harga yang mungkin sekitar lima ratus sampai lima ribu rupiah?

Lihatlah!

Dagangannya saja hanya hitungan jari. Tidak banyak. 
Lalu kenapa tidak langsung kita bayar saja tanpa harus ditawar?Bukankah itu akan membuat mereka bahagia?
Apalagi kalau kita mau berbesar hati memberikan uang lebih saat kita membayar, mereka yang benar-benar membutuhkan akan sangat terbantu dengan uang dari kita yang mungkin tidak begitu berarti bagi kita. Dan tak jarang, saking bahagianya, mereka dengan ikhlas mengucapkan banyak sekali do'a-do'a baik untuk kita, untuk keluarga kita, berulang-ulang. Bukankah do'a-do'a seperti itu akan langsung diijabah oleh Allah?
Rugi apa kita kalau sudah seperti itu?
Uang yang mungkin tak seberapa bagi kita, akan mendatangkan banyak kebaikan pada diri kita, pada keluarga kita. Yakinlah!
Janji Allah sungguh nyata.
"Lain syakartum la aziidannakum, wa lain kafartum inna 'adzaabii lasyadiid".

Semoga bermanfaat, ya, Dears! 
  

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts