In Sharing

Mengingat Kembali 3 Dhawuhnya Romo Kyai Qusyairi, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" yang Penuh dengan Kearifan


Assalaamu'alaikum, Sahabat Blogger Nusantara!

Kali ini saya akan sharing sedikit tentang sosok kyai sepuh di kabupaten Malang, yaitu K.H. A. Qusyairi Anwar. Mungkin ada beberapa di antara Sahabat yang belum begitu paham siapa beliau, namun bagi Sahabat yang hidup di kalangan pesantren, khususnya di kabupaten Malang, tentu sosok Romo Kyai Qusyairi sudah tidak asing lagi untuk didengar. Ya.. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang-Malang.

Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu" terletak di Jl. Diponegoro No. IV Bululawang, sebelah selatan Pasar Bululawang. Tempatnya yang strategis dan dekat dengan jalan raya memudahkan bagi siapapun yang ingin berkunjung dan mengenal lebih dalam dengan Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Nama "Murah Banyu" yang tergolong unik tentu menjadi magnet tersendiri untuk mudah diingat bagi siapapun yang mendengar.

Kembali pada sosok Kyai Qusyairi, beliau kyai yang sangat ramah kepada siapapun. Beliau juga sosok kyai yang "ngajangi jembar" kepada seluruh santrinya untuk belajar dan mengembangkan bakatnya sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan dihadirkannya tim jurnalistik dari media terkenal untuk membimbing para santri yang berminat di bidang literasi. Tak hanya tim jurnalistik, kyai juga menghadirkan beberapa novelis untuk membangkitkan semangat para santri yang ingin menjadi penulis novel. Beliau juga menghadirkan penjahit profesional untuk membimbing santri yang suka akan dunia tata busana. Beliau menghadirkan guru kaligrafi untuk santri-santri yang suka di dunia seni. Bahkan masih teringat dengan jelas di ingatan saya, untuk mengisi liburan sekolah yang hanya satu minggu, saat itu kyai menghadirkan cheff terkenal untuk membekali dunia tata boga para santri.
Ah, rasanya tidak cukup kata-kata ini untuk menuliskan betapa banyak yang telah kyai berikan untuk kami para santri. Di samping itu, sosok kyai Qusyairi membuktikan bahwa di dalam dunia pesantren, santri tidak melulu diajak ngaji dan maknai kitab kuning. Namun, kyai mengajak para santri untuk lebih bisa mempersiapkan diri, bagaimana cara untuk menghadapi masa depan seiring dengan perkembangan zaman. Selain pintar ngaji, pintar baca kitab kuning, arif dalam ilmu agama, namun santri juga diharapkan cakap akan ilmu-ilmu teknologi.

Begitu jelas di ingatan saya, kyai Qusyairi nimbali semua santri putrinya dengan sebutan "wong ayu". Tak peduli dia putri pejabat, dia anak orang kaya ataupun dia anak orang biasa, semua dipanggil dengan "wong ayu". 
Kyai yang setiap pagi saat santrinya sedang ro'an, beliau keliling dengan sepeda pancalnya yang berwarna biru. Kyai yang di setiap kesempatannya, saat dini hari sebelum shubuh, kerap kali terlihat berkeliling pondok untuk melihat santri yang bangun untuk sholat tahajud.

Saat ngaji pagi, kami para santri biasa menyebutnya "Ngaji Yai", selalu ada pesan-pesan singkat yang kyai dhawuhkan pada kami. Ngaji Yai memang tidak sampai lama, mungkin hanya 15-30 menit saja. Dhawuh-dhawuhnya yang terkesan santai dan pendek, namun begitu berbobot dan selalu terpatri dalam ingatan saya. Adapun dhawuh-dhawuh beliau yang sampai saat ini selalu teringat dalam diri saya, antara lain :

1. Barokah itu Laksana Angin, Tak Bisa Dilihat Namun Bisa Dirasakan

Begitulah kira-kira dhawuhnya kyai, bahwa barokah itu seperti angin, keberadaannya tidak bisa kita lihat namun bisa kita rasakan.
Itulah mengapa, kerap kali kita lihat, banyak santri yang berlomba-lomba mencari barokah. Kami para santri percaya, jalan untuk mencari barokah itu banyak sekali. Ada yang berlomba menata sandal/sepatu ustadz/ustadzahnya, ada yang berebut salim dan mencium dengan ta'dhim tangan kyai/ibu nyai, barokahnya berjuang, barokahnya ngabdi di pondok, barokahnya mengamalkan ilmu dan masih banyak lagi barokah-barokah lain yang selalu kami kejar.

2. Santri iku Ojo'o Ditandur, Dibuak ae Cukul

Santri itu jangankan ditanam, dibuang aja pasti tumbuh. Begitulah kira-kira maksud dhawuhnya kai. Kyai berharap, dengan segala ilmu dan pengalaman yang telah santri dapatkan selama di pesantren, seorang santri bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain ketika nanti hidup dalam masyarakat. Saat diminta menjadi imam sholat, siap. Saat diminta menjadi pembawa acara, bisa. Saat disuruh berpidato, berangkat. Itulah santri menurut kyai Qusyairi, "ojo'o ditandur, dibuak ae cukul". Aamiin, Yai... Semoga kami bisa memenuhi harapan Panjenengan.

3. 'Isy Kariiman Au Mut Syahiidan 

Sebuah hadits yang seringkali beliau dhawuhkan berulang-ulang. "Hiduplah dengan mulia atau mati dalam keadaan mati syahid". 

Bismillah. Ridhoi perjalanan kami, Yai.. Ridhoi perjuangan kami. Semoga di mana pun kami berpijak, kami bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar. Kami bisa menjunjung tinggi nama baik pesantren kami, Pondok Pesantren An-Nur III "Murah Banyu". Terakhir, akui kami sebagai santrimu, Yai.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk rasa cinta saya kepada pesantren, sebagai bentuk cinta dan ta'dhim saya kepada Panjenengan, Yai..
Dan untuk teman-teman seluruh santri alumni PP. An-Nur III "Murah Banyu" Bululawang, sempatkan, luangkan untuk hadir di acara besar kita, acara bersama kita, Reuni Akbar tanggal 10 Maret 2019. Akan ada banyak kejutan yang telah panitia siapkan untuk teman-teman tercinta.


Salam Iksamba

Related Articles

2 komentar:

  1. Semangat terus untuk selalu berkarya dengan hal-hal yang bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Subhanallah, tulisan mb tika mengingatknku pada pesan kyai, pesan ketiga yang sering ku dengar dari beliau. Semoga Kyai selalu meridhoi perjalanan kami sebagai santrinya,sehingga kami mampu menjadi orang yang bermanfaat dan hidup mulia sebagaimana pesan beliau.amin

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts