In Sharing

Siapa Tahu, Hal Kecil Ini Bisa Menjadi Perantara Barokahnya Rezekimu dan Sakinahnya Keluargamu!

Foto : Pexels.com
Assalamu'alaikum, Sahabat Blogger!

Bisa berbagi kepada sesama tentu impian bagi semua orang. Saling memberi dan saling membantu sungguh sesuatu yang indah. Saat melihat orang lain tersenyum bahagia karena bantuan yang telah kita berikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri pada hati kita. Bukan karena kita telah membuat orang lain merasa berhutang budi, namun ada rasa bahagia dan syukur pada diri kita karena telah bisa berbagi di saat orang lain sedang membutuhkan. Biidznillah tentunya.

Memang, berbagi dan membantu itu tak hanya tentang uang ataupun materi. Berbagi bisa berupa tenaga, pikiran ataupun bentuk jasa lainnya. Namun, meskipun begitu, berbagi atau sedekah sepertinya identik dengan uang atau materi dalam pandangan kita. Sehingga ada beberapa orang yang beranggapan bahwa berbagi atau sedekah itu "sedikit berat" untuk dilakukan. Dengan alasan belum ada uang lebih, ada juga yang beralasan masih memiliki kebutuhan yang banyak dan masih ada banyak lagi sederetan alasan yang bisa membuat kita menunda sedekah. Padahal, istilah sedekah tidak bisa kita artikan sesempit itu.

Nah, kali ini saya akan membahas sedikit tentang hal sepele, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita, namun, siapa tahu hal ini bisa menjadi perantara barokahnya rezeki serta sakinahnya keluarga kita.

Usahakan, Tak Usah Menawar Saat Kita Membeli  Sesuatu pada Pedagang Kecil!

Dears, pernah suatu ketika saat saya hendak membeli ikan mujaer di pasar, di sebelah saya ada seorang ibu yang sedang tawar-menawar harga mujaer, Rp. 26.000,- kalau gak salah.
'Wajar', pikir saya saat itu.
Saya pun menunggu antrian. Setelah agak lama, sepertinya suasananya terasa sedikit memanas karena mereka sempat eyel-eyelan uang seribu rupiah, akhirnya ibu penjual itu mengalah dengan menurunkan seribu rupiah sehingga menjadi Rp. 25.000,-.

Saya pun masih menyimak. Ternyata ibu pembeli itu hanya membeli setengah kilo, itu artinya, dari tadi beliau memperjuangkan uang lima ratus rupiah. Masyaallah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, setelah beliau menerima ikan mujaer yang telah ditimbang, ibu itu hanya menyerahkan uang Rp. 12.000,- ke tangan ibu penjual dan bergegas pergi tanpa ngomong apa-apa. Ibu penjual pun hanya melongo dan memilih untuk mengalah, meskipun sambil menggerutu.

Menyaksikannya, saya seolah antara kepingin tertawa dan menangis. Astaghfirullah. Padahal jelas sekali, di dalam dompet ibu pembeli tadi masih ada uang lebih. Tapi kenapa ibu pembeli tadi sampai setega itu?

Dears, marilah kita tata kembali pola pikir kita!
Saat kita membeli pada pedagang kecil, selama harga yang mereka kasih masih dalam batas wajar, selama uang kita masih cukup, kenapa tidak langsung kita iyakan saja?




Mereka para pedagang kecil, dalam mematok harga tentunya sudah selayaknya harga pasar. Andaikan lebih mahal pun, tak mungkin berbeda terlalu jauh. Dalam mencari keuntunganjuga tak mungkin terlalu banyak. Benar, bukan?


Banyak kita jumpai di pasar-pasar kecil, di pinggiran jalan, banyak sekali pedagang yang sudah tua renta, badannya sudah ringkih dan lemah, tidak sedikit pula di antara mereka yang tuna netra, namun mereka lebih memilih berjualan demi sesuap nasi daripada harus meminta-minta. Lalu, masih tega kah kita untuk menawarnya demi turunnya harga yang mungkin sekitar lima ratus sampai lima ribu rupiah?

Lihatlah!

Dagangannya saja hanya hitungan jari. Tidak banyak. 
Lalu kenapa tidak langsung kita bayar saja tanpa harus ditawar?Bukankah itu akan membuat mereka bahagia?
Apalagi kalau kita mau berbesar hati memberikan uang lebih saat kita membayar, mereka yang benar-benar membutuhkan akan sangat terbantu dengan uang dari kita yang mungkin tidak begitu berarti bagi kita. Dan tak jarang, saking bahagianya, mereka dengan ikhlas mengucapkan banyak sekali do'a-do'a baik untuk kita, untuk keluarga kita, berulang-ulang. Bukankah do'a-do'a seperti itu akan langsung diijabah oleh Allah?
Rugi apa kita kalau sudah seperti itu?
Uang yang mungkin tak seberapa bagi kita, akan mendatangkan banyak kebaikan pada diri kita, pada keluarga kita. Yakinlah!
Janji Allah sungguh nyata.
"Lain syakartum la aziidannakum, wa lain kafartum inna 'adzaabii lasyadiid".

Semoga bermanfaat, ya, Dears! 
  

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Home Ads

Advertisement

Popular Posts